Masalah pertama muncul di hari ke dua puluh tiga. Bukan masalah besar. Bukan serangan musuh atau bencana alam atau krisis pangan. Masalahnya jauh lebih kecil dan justru karena itulah Gareng merasa jauh lebih khawatir.
Petruk tidak memperbaiki atap gubuknya yang miring.
Padahal sudah tiga hari hujan. Padahal air sudah menggenang di sudut ruangan. Padahal Petruk sendiri yang dulu selalu bilang bahwa atap miring adalah keunggulan teknis yang tidak semua orang mengerti.
Sekarang Petruk tidak di gubuknya.
Petruk tidur di balai desa — di ruangan yang baru saja dipasangi tirai sutra sumbangan pedagang kain dari kota sebelah, dengan kasur yang empuk dan bantal yang banyak dan lampu minyak wangi yang tidak pernah padam.
Gareng berdiri di depan gubuk kosong itu, menatap atap yang bocor, lalu mencatat di bukunya:
Hari ke-23: Petruk tidak pulang ke gubuknya. Pertanda buruk nomor satu.
Perubahan itu datang pelan-pelan, seperti air yang meresap ke dalam tanah — tidak terasa, tapi tiba-tiba tanah sudah basah sampai ke dalamnya.
Awalnya hanya soal tidur. Lalu soal makan — Petruk mulai terbiasa dengan masakan juru masak yang didatangkan pedagang-pedagang yang ingin menyenangkan hatinya. Sayur lodeh buatannya sendiri masih ia masak sesekali, tapi semakin jarang.
Lalu soal pakaian. Seseorang menghadiahi Petruk seperangkat pakaian kebesaran — bukan yang terlalu mewah, tapi jauh lebih bagus dari baju lurik lusuhnya. Petruk memakainya karena merasa tidak enak menolak. Lalu memakainya lagi keesokan harinya karena ternyata nyaman. Lalu lusa. Lalu minggu berikutnya.
Baju luriknya tergantung sendirian di balik pintu balai desa.
Bagong yang pertama kali memperhatikan hal ini, yang cukup mengejutkan karena Bagong biasanya adalah orang yang paling tidak memperhatikan detail.
"Gareng," bisik Bagong suatu siang, "baju lurik Petruk sudah berdebu."
Gareng menoleh. Menatap baju itu. Menghitung debu yang menempel dengan tatapan seorang penasihat yang tahu bahwa debu di baju lama bisa berarti lebih dari sekadar debu.
"Sudah berapa lama?"
"Sejak sepuluh hari lalu."
Gareng mencatat: Hari ke-33: Baju lurik berdebu. Pertanda buruk nomor dua.
Pagi itu, ada warga yang datang menghadap dengan masalah yang sama seperti dua minggu lalu — atap rumahnya bocor dan tidak punya uang untuk memperbaiki.
Dua minggu lalu, Petruk langsung turun tangan. Mengajak Gareng dan Bagong, meminjam peralatan dari tetangga, dan mereka bertiga naik ke atap rumah warga itu sambil bercanda tidak karuan sampai pemilik rumah tertawa lebih banyak dari yang ia menangis.
Hari ini, Petruk mendengarkan keluhan warga itu dengan wajah serius, lalu berkata, "Sampaikan ke Gareng. Nanti diurus."
Warga itu pergi dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya puas — bukan karena masalahnya tidak akan diselesaikan, tapi karena ada sesuatu yang berbeda dari raja yang dulu memandangnya langsung di mata dan bilang ayo kita benerin sekarang.
Gareng yang berdiri di sudut ruangan mencatat dengan tulisan yang lebih besar dari biasanya:
PERTANDA BURUK NOMOR TIGA.
Malam itu, Gareng mengajak Bagong rapat darurat di bawah pohon beringin belakang balai desa.
"Kita harus melakukan sesuatu," kata Gareng.
"Setuju," kata Bagong. "Apa?"
"Mengingatkan Petruk."
"Caranya?"
Gareng menyilangkan lengannya. "Dengan cara Petruk."
Bagong mengernyit. "Maksudnya?"
"Berisik. Tidak langsung. Dan kalau perlu, sedikit memalukan."
Bagong mengangguk pelan, lalu wajahnya mencerahkan. "Oh. Aku suka rencana ini."
Keesokan harinya, di tengah sidang pagi yang dihadiri beberapa perwakilan desa, Bagong tiba-tiba masuk dengan membawa ember dan kain pel.
Semua orang menoleh.
"Bagong," kata Petruk, "kamu mau apa?"
"Membersihkan lantai, Paduka," jawab Bagong dengan wajah paling polos yang pernah diciptakan alam semesta.
"Sekarang? Di tengah sidang?"
"Lantainya kotor, Paduka. Dan Paduka dulu selalu bilang, rumah yang bersih mencerminkan pikiran yang bersih." Bagong mulai mengepel dengan semangat yang mencurigakan. "Ini kata-kata Paduka sendiri waktu kita masih di gubuk dulu. Paduka ingat? Waktu kita gotong royong bersihkan gubuk sebelum Lebaran, terus Paduka yang paling rajin ngepel tapi sepatunya malah meninggalkan jejak di lantai yang baru dipel—"
"Bagong—"
"—sampai Gareng ketawa sampai jatuh dari kursi, terus Paduka bilang lha ini salah sepatunya bukan salah aku padahal semua orang lihat Paduka yang jalan di atas lantai basah—"
"BAGONG."
Bagong berhenti mengepel. Menatap Petruk dengan mata bulat. "Ya, Paduka?"
Seluruh ruangan diam. Para perwakilan desa saling pandang dengan ekspresi bingung yang seragam.
Petruk menatap Bagong lama sekali. Lalu menatap ember di tangan Bagong. Lalu menatap kain pel. Lalu menatap lantai yang sebenarnya tidak terlalu kotor.
Dan di suatu tempat di balik matanya, sesuatu seperti tersentak — seperti orang yang hampir ketiduran lalu tiba-tiba sadar.
"Sidang dilanjut besok," kata Petruk tiba-tiba.
Semua orang terkejut.
"Hari ini kita ada urusan lain." Ia berdiri, melepas pakaian kebesarannya — meletakkannya rapi di kursi singgasana — lalu berjalan ke balik pintu dan mengambil baju lurik yang berdebu itu. Menampar debunya dua kali, lalu mengenakannya.
Ia berbalik ke Bagong. "Mana embernya?"
Bagong menyerahkan ember dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Kita mulai dari atap gubukku yang bocor," kata Petruk. "Sudah hampir sebulan. Memalukan sekali itu."
Sore itu, tiga punakawan ada di atas atap gubuk yang miring — Petruk memasang genteng, Gareng menyodorkan bahan dari bawah, dan Bagong yang seharusnya membantu malah lebih banyak duduk di dahan pohon sebelah sambil memberikan komentar yang tidak diminta.
"Gentengnya miring, Paduka."
"Aku tahu."
"Yang kiri lebih tinggi."
"Aku tahu, Bagong."
"Kalau begini nanti airnya malah masuk ke—"
"BAGONG."
"—dapur. Iya, aku diam."
Warga-warga yang lewat berhenti, menoleh, lalu tersenyum — ada raja mereka di atas atap, berkeringat, dengan baju lurik lusuh, berdebat dengan pembantunya soal kemiringan genteng.
Seorang nenek tua berhenti paling lama. Lalu berkata ke cucunya yang ada di sebelahnya, "Itu raja kita."
"Yang di atas atap itu, Nek?"
"Yang di atas atap itu."
Sang cucu memandang Petruk yang sedang bersusah payah memasang genteng sambil sesekali menggerutu. "Aneh ya, Nek. Raja kok benerin atap sendiri."
Nenek itu tersenyum. "Justru itu yang membuat dia raja, Nak."
Malam itu, atap gubuk sudah tidak bocor.
Petruk berbaring di kasurnya sendiri — bukan kasur empuk di balai desa, tapi kasur tipis yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun, yang tahu persis lekukan punggungnya dan tidak protes.
Di luar, Gareng dan Bagong duduk di teras seperti biasa.
"Berhasil," bisik Bagong.
"Berhasil," angguk Gareng. Ia membuka buku catatannya dan mencoret tiga pertanda buruk yang ia tulis sebelumnya. Lalu menambahkan satu baris baru:
Hari ke-34: Petruk pulang ke gubuknya. Atap sudah tidak bocor. Raja masih Petruk.
Ia menutup bukunya dengan puas.
Di dalam gubuk, terdengar suara Petruk berbicara sendiri — atau mungkin berbicara ke tombak pusakanya yang bersandar di sudut ruangan.
"Hampir saja tadi, ya. Hampir."
Lalu diam.
Lalu, pelan-pelan: suara dengkuran yang sudah sangat Gareng dan Bagong kenal — dengkuran Petruk yang kalau malam senyap terdengar sampai ke ujung jalan.
Bagong menghela napas lega. "Nah. Itu baru normal."
Gareng tertawa kecil di bawah bintang-bintang Tumaritis yang malam itu terasa lebih terang dari biasanya.
Bersambung ke bagian keempat: "Petruk dari Tumaritis: Para Ksatria Datang Menagih"
Catatan: Cerpen ini adalah adaptasi fiksi dari legenda wayang Jawa "Petruk Dadi Ratu". Karakter dan nilai-nilai dalam cerita ini terinspirasi dari tradisi pewayangan Nusantara.

Posting Komentar