Bukan satu, bukan dua — tiga utusan sekaligus, dari tiga kerajaan berbeda, tiba di Tumaritis pada pagi yang sama dengan cara yang membuat Bagong berlari ke dalam balai desa sambil terengah-engah dan berteriak:
"TRUK. EH. PADUKA. ADA TAMU. BANYAK. BERKUDA. KELIHATANNYA SERIUS."
Petruk yang sedang sarapan dengan tenang menatap Bagong. "Serius bagaimana?"
"Serius yang pakai baju besi dan pedang di pinggang."
"Oh." Petruk meletakkan sendoknya. "Segitu seriusnya."
Gareng sudah ada di depan balai desa lebih dulu, mengamati iring-iringan yang berhenti di ujung jalan desa. Tiga rombongan, tiga panji berbeda — warna dan lambang yang ia kenali semua. Bukan kerajaan sembarangan.
Ia berbalik ke Petruk yang baru keluar dengan sisa nasi di sudut bibirnya. "Kamu tahu siapa mereka?"
"Yang kiri itu Kerajaan Wiratha. Yang tengah Ngastina. Yang kanan..." Petruk memicingkan mata. "Itu Dwarawati kalau aku tidak salah lihat."
Gareng menghela napas panjang. "Petruk. Itu bukan kerajaan-kerajaan kecil."
"Aku tahu."
"Mereka datang untuk pusaka."
"Aku tahu."
"Kita tidak punya pasukan."
"Aku tahu."
"Jadi kita mau apa?"
Petruk mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Kita sambut. Mereka tamu. Tamu harus disambut."
Gareng menatapnya dengan ekspresi yang sudah sangat lelah bahkan sebelum hari dimulai. "Itu saja rencanamu?"
"Sambil mikir yang lain, ya."
Penyambutan di depan balai desa Tumaritis mungkin adalah penyambutan paling sederhana yang pernah diterima utusan kerajaan besar dalam sejarah.
Tidak ada gamelan. Tidak ada pagar betis prajurit bersenjata. Tidak ada karpet merah atau bunga-bunga yang ditaburkan.
Yang ada: Petruk berdiri di depan pintu dengan baju luriknya, Gareng di sebelah kanannya dengan buku catatan yang sudah terbuka siap mencatat, dan Bagong di sebelah kirinya yang entah mengapa membawa sapu — mungkin tadi sedang menyapu dan tidak sempat menaruhnya kembali, atau mungkin memang sengaja karena merasa itu perlu. Dengan Bagong, selalu sulit membedakan keduanya.
Tiga juru bicara dari tiga kerajaan turun dari kuda mereka. Pakaian mereka berkilap. Pedang di pinggang mereka berkilap. Bahkan sepatu bot mereka berkilap.
Mereka menatap Petruk.
Petruk menatap mereka balik dengan ramah.
"Selamat datang di Tumaritis," kata Petruk. "Sudah sarapan?"
Hening.
Juru bicara dari Wiratha — yang paling senior kelihatannya dari cara ia berdiri — melangkah maju. "Kami datang atas nama tiga kerajaan besar untuk menyampaikan tuntutan resmi—"
"Tuntutan?" Petruk menoleh ke Gareng. "Dicatat ya."
Gareng mencatat: Tuntutan resmi. Tiga kerajaan.
"—atas kepemilikan Kunta Wijayandanu yang saat ini berada dalam penguasaan pihak yang tidak berhak—"
"Tidak berhak?" Petruk menoleh ke Bagong.
Bagong mengangguk dengan ekspresi ikut tersinggung meski tidak terlalu mengerti konteksnya.
"—dan kami meminta agar pusaka tersebut diserahkan dalam waktu tiga hari atau kami terpaksa mengambil tindakan yang—"
"Masuk dulu," kata Petruk.
Juru bicara itu berhenti di tengah kalimat. "Apa?"
"Masuk. Duduk dulu. Kita bicara di dalam. Di luar panas." Petruk sudah berbalik dan berjalan masuk. "Bagong, tolong buatkan minuman untuk tamu-tamu kita. Yang banyak, mereka kelihatan haus setelah perjalanan jauh."
Bagong menyandarkan sapunya ke dinding dan menghilang ke dapur.
Tiga juru bicara dari tiga kerajaan besar berdiri di depan balai desa Tumaritis, saling pandang, tidak tahu harus bereaksi apa terhadap situasi yang sama sekali tidak ada dalam protokol resmi mereka.
Di dalam balai desa, suasananya tidak lebih formal dari warung kopi.
Petruk duduk bersila di kursinya yang kaki satunya masih goyang. Para juru bicara duduk di bangku-bangku kayu sederhana yang sudah disiapkan Gareng dengan cepat. Bagong membawa nampan berisi minuman — teh, air putih, dan satu mangkuk kecil kacang rebus yang entah dari mana ia dapat.
"Jadi," kata Petruk setelah semua duduk dan minuman sudah di tangan masing-masing. "Kalian mau pusaka itu kembali."
"Benar," kata juru bicara Wiratha.
"Boleh aku tanya dulu — pusaka itu milik siapa sebelumnya?"
Tiga juru bicara saling pandang. Ini pertanyaan yang tidak mereka persiapkan jawabannya karena mereka pikir tidak akan ditanya.
"Itu... milik leluhur," kata juru bicara Ngastina hati-hati.
"Leluhur siapa?"
Hening lagi.
"Leluhur bersama," kata juru bicara Dwarawati akhirnya. "Warisan dari zaman dahulu."
"Berarti bukan milik kerajaan manapun secara khusus?" Petruk menoleh ke Gareng. "Dicatat ya."
Gareng mencatat dengan senyum yang ia sembunyikan di balik buku catatannya: Pusaka bukan milik siapapun secara khusus. Kata mereka sendiri.
Para juru bicara mulai menyadari bahwa percakapan ini tidak berjalan ke arah yang mereka rencanakan.
"Terlepas dari itu," kata juru bicara Wiratha, mencoba mengembalikan momentum, "kenyataannya pusaka itu terlalu penting untuk berada di tangan—"
"Di tangan orang seperti aku?" Petruk bertanya tanpa nada marah. Hanya ingin tahu.
Juru bicara itu terdiam.
"Tidak apa-apa kalau memang itu yang mau kamu katakan," lanjut Petruk. "Aku orang desa. Aku punakawan. Aku tahu aku bukan siapa-siapa di mata kerajaan-kerajaan besar." Ia meletakkan cangkir tehnya. "Tapi pusaka itu jatuh ke tanganku. Dan selama ia di tanganku, tidak satu pun orang di desa ini yang aku rugikan. Tidak satu pun tuntutan rakyat kecil yang aku abaikan. Tidak satu pun keputusanku yang aku ambil demi keuntunganku sendiri."
Ruangan itu sunyi.
Bagong yang biasanya tidak bisa diam bahkan ia pun diam.
"Aku tidak bilang aku raja yang sempurna," lanjut Petruk, lebih pelan. "Aku pernah hampir lupa diri. Hampir terlena. Gareng dan Bagong yang mengingatkan aku." Ia melirik keduanya. "Dengan cara yang agak memalukan, tapi berhasil."
Gareng menunduk pura-pura mencatat. Bagong tiba-tiba sangat tertarik memandangi kacang rebusnya.
"Yang ingin aku tanyakan ke kalian," kata Petruk, menatap tiga juru bicara itu satu per satu, "adalah ini: kalau pusaka itu kalian ambil hari ini, apa yang akan berubah untuk rakyat kecil di Tumaritis? Untuk petani yang kemarin panennya gagal? Untuk janda tua yang atap rumahnya bocor? Untuk anak-anak yang jalannya berlubang?"
Tidak ada yang menjawab.
"Itu yang aku pikir," kata Petruk.
Tiga juru bicara itu akhirnya pamit menjelang sore — bukan dengan membawa pusaka, tapi dengan membawa sesuatu yang tidak mereka bawa waktu datang: pertanyaan yang belum terjawab yang akan menemani mereka sepanjang perjalanan pulang.
Petruk berdiri di depan balai desa, melambaikan tangan ke iring-iringan yang pergi, seperti melepas tamu biasa setelah arisan.
"Mereka akan kembali," kata Gareng di sebelahnya.
"Aku tahu."
"Kali berikutnya mungkin tidak cukup dengan bicara."
"Aku tahu itu juga."
"Jadi?"
Petruk menatap jalan yang semakin sepi. "Jadi kita persiapkan diri. Bukan dengan pedang — kita tidak punya cukup pedang. Tapi dengan sesuatu yang lebih sulit dikalahkan."
"Apa?"
Petruk tersenyum. "Kebenaran yang sudah terlanjur didengar banyak orang."
Gareng mencatat kalimat itu dengan sangat serius di bukunya, menggarisbawahi dua kali.
Di belakang mereka, Bagong memungut sapu yang tadi disandarkan ke dinding dan mulai menyapu teras balai desa — membersihkan bekas langkah sepatu bot berkilap yang meninggalkan jejak di lantainya.
"Bersih lagi," kata Bagong puas.
Dan entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa seperti penutup yang paling pas untuk hari itu.
Bersambung ke bagian kelima: "Petruk dari Tumaritis: Pulang ke Gubuk yang Atapnya Miring"
Catatan: Cerpen ini adalah adaptasi fiksi dari legenda wayang Jawa "Petruk Dadi Ratu". Karakter dan nilai-nilai dalam cerita ini terinspirasi dari tradisi pewayangan Nusantara.

Posting Komentar