Petruk membuat keputusan itu pada pagi hari ke enam puluh tujuh. Bukan karena tekanan dari tiga kerajaan besar yang utusannya sudah dua kali datang dan dua kali pulang dengan tangan kosong. Bukan karena takut. Bukan karena kalah.
Tapi karena malam sebelumnya ia bermimpi tentang tuannya — Pandawa — yang berdiri di tepi jalan sambil menunggu. Tidak berkata apa-apa dalam mimpi itu. Hanya berdiri dan menunggu dengan cara orang yang sudah lama tidak bertemu orang yang ia percaya.
Petruk terbangun sebelum subuh. Duduk di tepi kasurnya. Menatap tombak pusaka yang bersandar di sudut ruangan, bersinar redup di kegelapan seperti bintang yang tersesat masuk ke dalam gubuk.
Dan ia tahu.
Bukan waktunya lagi.
Ia membangunkan Gareng dan Bagong sebelum matahari naik.
Gareng membuka matanya dan langsung membaca ekspresi Petruk. Ia sudah mengenal wajah itu cukup lama untuk tahu bahwa tidak ada gunanya bertanya — cukup bangkit dan siap.
Bagong membuka matanya dan berkata, "Sudah pagi?"
"Belum."
"Kenapa dibangunkan?"
"Kita mau pergi."
Bagong menatap langit yang masih gelap di luar jendela. "Ke mana?"
"Mengembalikan sesuatu."
Bagong menguap panjang. "Sekarang?"
"Sekarang."
"Boleh sarapan dulu?"
Petruk menatap Bagong dengan tatapan yang sudah sangat ia kenal — tatapan yang bilang ya ampun Bagong tanpa perlu diucapkan. "Tidak."
"Setengah porsi?"
"Bagong."
"Iya, iya. Aku siap."
Sebelum berangkat, Petruk melakukan satu hal yang tidak ia ceritakan ke siapa pun — tidak ke Gareng, tidak ke Bagong, tidak ke warga desa yang belum ada yang bangun.
Ia berjalan keliling desa sendirian.
Melewati jalan yang berlubangnya sudah ditambal. Melewati rumah si nenek yang atapnya sudah tidak bocor. Melewati ladang yang irigasinya sudah terbagi adil antara dua petani yang dulu hampir berkelahi. Melewati pohon beringin tempat ia dan Gareng dan Bagong sering duduk malam-malam.
Tidak ada yang ia sentuh. Tidak ada yang ia ucapkan.
Hanya berjalan, melihat, mengingat.
Di ujung putaran itu, ia berdiri sebentar di depan gubuknya sendiri — atapnya yang miring ke kiri, catnya yang mengelupas, pintunya yang selalu sedikit macet kalau didorong terlalu pelan.
Ia tersenyum kecil.
Rumah.
Warga desa Tumaritis terbangun pada pagi itu dengan pemandangan yang tidak mereka duga.
Raja mereka berdiri di tengah alun-alun dengan baju lurik lusuh dan sandal jepitnya, diapit Gareng dan Bagong, menghadap kerumunan yang semakin lama semakin banyak karena berita menyebar cepat bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Aku mau pamit," kata Petruk.
Kerumunan itu sunyi seketika.
"Bukan pergi jauh. Aku masih di sini, masih di gubuk itu, masih makan di warung Bu Lastri kalau kangen opor ayamnya." Ia menoleh ke arah warung di sudut alun-alun. Bu Lastri yang berdiri di depan pintu warungnya mengangguk terharu dengan lap di tangan. "Tapi jabatan raja ini — dan tombak ini — sudah waktunya dikembalikan ke tempat yang benar."
Ia mengangkat Kunta Wijayandanu. Di bawah cahaya pagi yang baru mulai masuk dari timur, tombak itu bersinar lebih terang dari biasanya — seperti ia pun tahu bahwa sebentar lagi ia akan pulang.
"Enam puluh tujuh hari," kata Petruk. "Itu bukan waktu yang lama. Tapi cukup untuk aku belajar satu hal yang tidak pernah aku mengerti waktu aku cuma jadi punakawan."
"Apa itu?" tanya seseorang dari kerumunan.
"Bahwa memimpin itu bukan soal siapa yang paling kuat atau paling pintar atau paling tinggi keturunannya." Petruk menatap wajah-wajah yang menatapnya balik — petani, pedagang, anak-anak, orang tua, semua wajah yang ia kenali satu per satu sekarang. "Memimpin itu soal siapa yang mau mendengarkan. Dan mau turun dari singgasananya untuk naik ke atap yang bocor."
Tawa kecil pecah di sana-sini. Seseorang menangis pelan di pojok kerumunan — suaranya segera tenggelam tapi Petruk sempat mendengarnya.
"Aku bukan raja yang baik," lanjutnya. "Aku raja yang belajar. Dan itu sudah cukup untuk enam puluh tujuh hari."
Penyerahan pusaka dilakukan tanpa upacara besar.
Petruk meletakkan Kunta Wijayandanu di atas batu datar di tengah alun-alun — batu yang sama tempat anak-anak biasa duduk main kelereng — dan membiarkannya di sana.
Menurut yang diceritakan orang-orang kemudian, tombak itu bersinar sebentar, lalu cahayanya naik seperti asap yang tipis ke arah langit, dan ketika cahaya itu hilang, tombak itu pun sudah tidak ada.
Kembali ke tempatnya yang sebenarnya, kata yang tua-tua.
Bagong yang menyaksikan itu dari dekat berkata dengan sangat serius: "Aku melihatnya, Gareng. Aku melihat cahayanya."
"Aku juga," kata Gareng.
"Kamu percaya kejadian barusan?"
"Aku mencatatnya. Berarti aku percaya."
Bagong mengangguk puas. "Bagus. Karena kalau tidak ada yang percaya, nanti aku dikira mimpi."
Sore itu, Petruk sudah ada di gubuknya.
Baju lurik di badan. Sandal jepit di kaki. Secangkir kopi di tangan yang ia buat sendiri — terlalu kental seperti biasa, karena ia tidak pernah bisa mengukur takarannya dengan tepat.
Gareng dan Bagong duduk di teras seperti selalu — seperti tidak ada yang berubah, seperti enam puluh tujuh hari terakhir hanyalah mimpi panjang yang baru saja berakhir dengan cara yang baik.
"Petruk," kata Bagong setelah lama diam. "Kamu tidak menyesal?"
"Menyesal apa?"
"Mengembalikan pusakanya. Melepas jabatan raja."
Petruk menyeruput kopinya. Menatap langit yang mulai oranye di barat. "Tidak."
"Sama sekali?"
"Sama sekali." Ia meletakkan cangkirnya. "Aku tahu apa yang aku mau, Bagong. Dan itu bukan singgasana."
"Lalu apa?"
Petruk menunjuk ke depan — ke jalan desa yang mulai sepi, ke pohon-pohon yang bergoyang pelan, ke atap-atap rumah yang mengepulkan asap karena orang-orang mulai masak makan malam.
"Ini," katanya. "Persis seperti ini."
Bagong menatap pemandangan yang ditunjuk Petruk. Menatap lama. Lalu mengangguk pelan dengan ekspresi yang sangat jarang muncul di wajahnya — ekspresi orang yang benar-benar mengerti sesuatu, bukan sekadar pura-pura mengerti.
"Aku juga suka ini," katanya akhirnya.
"Aku tahu," kata Gareng dari sebelahnya. "Makanya kita masih di sini."
Mereka bertiga diam bersama di bawah langit yang perlahan gelap, di teras gubuk yang atapnya miring ke kiri, di desa yang namanya mungkin tidak akan pernah masuk ke dalam kitab sejarah besar manapun — tapi yang selama enam puluh tujuh hari pernah dipimpin oleh orang paling tidak terduga yang pernah memegang pusaka sakti.
Dan mungkin, justru karena itulah, Tumaritis selalu diingat oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya sebagai tempat di mana hal yang mustahil pernah terjadi — bukan dengan senjata, bukan dengan tipu daya, tapi dengan kejujuran yang polos dan sayur lodeh yang asin.
Di kejauhan, suara jangkrik mulai ramai.
Malam di Tumaritis turun seperti biasa — tenang, bersahaja, dan terasa seperti rumah.
— Tamat —
Terima kasih telah mengikuti perjalanan Petruk dari Tumaritis. Lima bagian cerpen ini adalah adaptasi fiksi yang terinspirasi dari legenda wayang Jawa "Petruk Dadi Ratu" — salah satu cerita paling ikonik dalam tradisi pewayangan Nusantara yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Nilai-nilai yang hidup dalam kisah ini — kejujuran, kerendahan hati, dan keberanian untuk kembali ke jati diri — adalah nilai yang tidak lekang oleh waktu.

Posting Komentar