Petruk Dari Tumaritis: Menjadi raja ternyata tidak semudah kelihatannya

Petruk jadi raja

Menjadi raja ternyata tidak semudah kelihatannya. Terutama kalau rakyatmu yang pertama datang menghadap adalah Gareng dan Bagong — dua orang yang sudah mengenalmu sejak kamu masih takut kecoak dan pernah menangis karena kerupukmu jatuh ke got.

"Paduka," kata Gareng, berlutut dengan ekspresi yang sangat serius — terlalu serius, serius yang dipaksakan, serius yang kalau sedikit lagi akan retak jadi tawa. "Kami datang menghadap Yang Mulia Raja Tumaritis."

Petruk menatap Gareng dari atas kursi kayu yang dijadikan singgasana sementara — kursi itu masih ada bekas catnya yang mengelupas dan satu kakinya sedikit goyang.

"Gareng," kata Petruk. "Kamu tahu aku tahu kamu mau ketawa."

"Tidak, Paduka. Hamba sangat serius."

"Bahumu gemetar."

"Karena hamba terharu, Paduka."

Di belakang Gareng, Bagong sudah tidak bisa menahan diri. Suara tawanya meledak seperti petasan yang terlambat meledak — HA HA HA — bergema di seluruh balai desa yang baru saja dipinjam jadi istana dadakan.

Petruk menghela napas panjang.

Beginilah jadinya kalau punakawan naik tahta. Yang menghadap juga punakawan.

Hari-hari pertama pemerintahan Petruk di Tumaritis berjalan dengan cara yang tidak pernah ada dalam buku sejarah mana pun.

Sidang pertama dimulai terlambat empat puluh menit karena Petruk lupa di mana ia menaruh tombak pusakanya — ternyata Bagong memakainya untuk mengambil buah kelapa di pohon belakang balai desa.

"Bagong!" teriak Petruk.

"Lha wong tinggi sekali pohonnya, Truk. Eh, Paduka."

"Itu pusaka agung! Bukan galah!"

"Tapi efektif, Paduka. Lihat, dapat tiga kelapa sekaligus."

Bagong mengangkat tiga kelapa dengan bangga. Petruk menatapnya dengan ekspresi yang sulit didefinisikan — antara marah, tidak percaya, dan sedikit terkesan karena memang dapat tiga sekaligus.

Gareng duduk di sudut ruangan, mencatat kejadian itu di buku catatan barunya sebagai penasihat kerajaan, dengan judul: "Hari Pertama Sidang: Pusaka Dipakai Galah Kelapa."

Tapi di balik semua kekacauan yang menggelikan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan mulai terjadi.

Rakyat datang menghadap dengan masalah mereka — sengketa tanah, ladang yang kekeringan, jalan desa yang berlubang sejak zaman nenek moyang. Dan Petruk, yang selama hidupnya terbiasa mendengarkan keluhan tuannya, terbiasa memperhatikan detail yang orang lain lewatkan, terbiasa mencari solusi dari sudut yang tidak terduga — ternyata tidak buruk-buruk amat dalam urusan ini.

Seorang petani datang mengadu bahwa tetangganya mengambil air irigasi lebih banyak dari jatahnya.

Raja-raja besar mungkin akan memanggil hakim, menggelar sidang formal, membutuhkan waktu berminggu-minggu.

Petruk mengundang kedua petani itu makan siang bersama di gubuknya.

"Makan dulu," katanya. "Orang lapar susah berpikir jernih. Aku tahu itu dari pengalaman pribadi."

Di meja makan yang sederhana, dengan sayur lodeh dan tempe goreng, dua petani yang tadinya hampir berkelahi itu akhirnya menemukan bahwa masalah mereka sebenarnya bisa diselesaikan dengan membagi jadwal pengairan — pagi untuk yang satu, sore untuk yang lain. Solusi yang sederhana, tapi tidak pernah terpikirkan karena mereka terlalu sibuk marah-marah.

Gareng mencatat: "Hari Kelima: Sengketa irigasi diselesaikan dengan sayur lodeh."

Lalu menambahkan: "Mungkin ada benarnya juga si Petruk ini."

Tapi tidak semua hari berjalan mulus.

Ada hari ketika utusan dari kerajaan besar datang — berpakaian mewah, berbicara dengan bahasa yang tinggi dan berputar-putar, membawa pesan yang intinya adalah: serahkan pusaka itu atau hadapi konsekuensinya.

Petruk menerima utusan itu di balai desa dengan pakaian sehari-harinya — baju lurik sederhana, sandal jepit, dan rambut yang tidak sempat disisir karena ketiduran siang.

Utusan itu memandang Petruk dari atas ke bawah dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan: campuran heran dan meremehkan.

"Ini... rajanya?" bisik sang utusan ke pembantunya.

"Sepertinya," bisik sang pembantu balik.

Petruk pura-pura tidak dengar — padahal telinganya panjang dan pendengarannya sangat baik. Ia mempersilakan utusan itu duduk, meminta Bagong membawakan minuman, lalu duduk bersila di kursi singgasananya yang masih goyang kakinya itu.

"Jadi," kata Petruk ramah, "ada apa?"

Utusan itu menyampaikan pesannya dengan panjang lebar dan penuh ancaman terselubung. Petruk mendengarkan dengan serius — lebih serius dari biasanya, bahkan Gareng sampai menoleh dua kali memastikan itu memang Petruk dan bukan orang lain.

Ketika utusan itu selesai, Petruk diam sebentar.

Ini adalah momen langka: Petruk diam.

Gareng mencatat dengan tulisan besar di bukunya: PETRUK DIAM. CATAT INI.

"Sampaikan ke rajamu," kata Petruk akhirnya, pelan tapi jelas, "bahwa pusaka ini bukan milikku dan bukan miliknya. Pusaka ini milik siapa pun yang mengembannya dengan benar. Dan selama aku memegangnya, aku akan gunakan untuk hal yang perlu — bukan untuk menakuti orang yang lebih lemah."

Utusan itu membuka mulut.

"Dan," tambah Petruk, kembali ke nada normalnya yang santai, "kalau rajamu mau bicara, suruh datang sendiri. Kita makan siang bareng. Aku masak sendiri, lho. Sayur lodeh-ku lumayan."

Utusan itu pergi dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Bagong menatap kepergian mereka lalu berbalik ke Petruk. "Truk. Eh, Paduka. Kamu serius mau masak buat raja besar?"

"Kenapa tidak?"

"Karena masakanmu asin, Paduka."

"Itu karena aku orangnya berasa," jawab Petruk sambil berdiri dan menepuk-nepuk bajunya. "Gareng, catat itu juga."

Gareng sudah mencatatnya bahkan sebelum diminta.

Malam itu, tiga punakawan duduk di teras gubuk Petruk seperti biasa — seperti ratusan malam sebelumnya, sebelum ada pusaka dan singgasana dan utusan raja.

Bintang-bintang di atas Tumaritis sama banyaknya. Angin dari timur sama sejuknya. Suara jangkrik sama riuhnya.

"Petruk," kata Gareng, kali ini tanpa nada bercanda. "Kamu berubah."

"Iya?" Petruk meliriknya. "Jadi lebih ganteng?"

"Bukan itu." Gareng memandang langit. "Kamu tadi diam lama sekali sebelum menjawab utusan itu. Petruk yang aku kenal tidak pernah bisa diam lebih dari tiga detik."

Petruk tidak langsung menjawab. Ia menatap tombak pusaka yang bersandar di dinding gubuknya — bersinar redup di bawah cahaya lampu minyak.

"Aku sadar sesuatu," katanya akhirnya. "Dulu aku banyak bicara karena aku merasa tidak ada yang mau mendengarkan. Jadi aku harus berisik supaya suaraku sampai." Ia menarik napas. "Sekarang orang mendengarkan. Jadi aku tidak perlu berisik terus."

Bagong mengangguk pelan — pelan yang sangat serius untuk ukuran Bagong, yang biasanya mengangguk sambil mikir hal lain.

"Tapi jangan terlalu diam, ya," kata Bagong. "Nanti aku tidak bisa tidur kalau tidak dengar kamu ngomong."

Petruk menatap Bagong.

Gareng menatap Bagong.

Bagong menatap bintang dengan ekspresi polos sempurna.

Dan tawa mereka bertiga pecah bersama di bawah langit Tumaritis yang tidak pernah sebanyak itu bintangnya seperti malam itu — atau mungkin selalu sebanyak itu, hanya mereka baru sempat mendongak dan melihatnya.

Bersambung ke bagian ketiga: "Petruk Digoda Kuasa — Ketika Singgasana Mulai Terasa Nyaman"

Catatan: Cerpen ini adalah adaptasi fiksi dari legenda wayang Jawa "Petruk Dadi Ratu". Karakter dan nilai-nilai dalam cerita ini terinspirasi dari tradisi pewayangan Nusantara.

0/Post a Comment/Comments

Iklan Banner ⚡ Iklan
Iklan Banner ⚡ Iklan