Petruk dari Tumaritis: Ketika Memegang Pusaka

petruk dari desa tumaritis

Di sudut paling ujung Desa Tumaritis, ada sebuah gubuk yang atapnya selalu sedikit miring ke kiri.

Penghuninya — Petruk — tidak pernah repot memperbaikinya. Katanya, atap miring membuat air hujan mengalir lebih cepat ke kanan, jadi lantai gubuknya tidak pernah becek. Logika yang tidak masuk akal bagi siapa pun, tapi entah mengapa selalu terbukti benar.

Begitulah Petruk. Hidungnya panjang, tubuhnya jangkung dan kurus seperti bambu yang lupa makan, dan mulutnya tidak pernah berhenti — entah bercerita, entah berdebat, entah tertawa pada leluconnya sendiri sebelum selesai diucapkan. Ia adalah punakawan, abdi setia dari trah Pandawa, dan tugasnya selama ini adalah menemani, menghibur, dan sesekali mengingatkan tuannya dengan cara yang tampak seperti lelucon tapi ternyata serius.

Ia tidak pernah memimpin. Tidak pernah ingin memimpin.

Ceritanya bermula dari sebuah kesalahpahaman — sebagaimana banyak hal besar dalam hidup bermula dari hal kecil yang tidak disengaja.

Hari itu, medan perang di wilayah perbatasan Amarta sedang kacau. Dua kubu saling serang, pusaka-pusaka beterbangan, dan di tengah keributan itulah sebuah tombak sakti — Kunta Wijayandanu, senjata milik leluhur agung — terlempar jauh dari tangan pemiliknya dan jatuh tepat di depan kaki Petruk yang sedang berlari menghindari dentuman.

Petruk berhenti.

Tombak itu bersinar. Bukan cahaya biasa — cahaya yang terasa hangat di dada, seperti ketika seseorang memuji kamu dengan tulus untuk pertama kalinya setelah lama tidak dipuji.

"Wah," kata Petruk. "Bagus sekali ini."

Ia memungutnya.

Dan saat itulah langit berubah — mendung datang dari selatan, tanah bergetar kecil, dan dari kejauhan terdengar suara seperti gong raksasa dipukul satu kali, pelan tapi dalam. Tanda bahwa pusaka itu telah menemukan tangan baru.

Petruk tidak mengerti tanda-tanda itu. Ia hanya berpikir bahwa tombak itu berat dan gagah dan sayang kalau dibiarkan di tanah berlumpur.

Kabar menyebar lebih cepat dari angin.

Petruk memegang Kunta Wijayandanu.

Di istana-istana, para raja mengerutkan kening. Di padepokan-padepokan, para brahmana saling berbisik. Di warung-warung kecil di pinggir jalan, orang-orang bertengkar pendapat — ada yang tertawa tidak percaya, ada yang justru mengangguk serius.

Yang paling terkejut adalah Gareng dan Bagong, saudara sepunakawan Petruk, yang saat itu sedang makan siang di bawah pohon beringin dekat sungai.

"Petruk?" kata Gareng, hampir tersedak. "Petruk yang menjahit bajunya sendiri tapi selalu terbalik? Petruk yang pernah tersesat di desanya sendiri? Itu Petruk yang memegang pusaka agung?"

"Yang itu," angguk Bagong.

Gareng menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tapi kemudian sesuatu terjadi yang tidak ada yang perkirakan: raja-raja kecil di wilayah perbatasan, yang selama ini bingung harus memihak siapa di tengah kekacauan politik para ksatria besar, tiba-tiba melihat Petruk sebagai tanda. Bukan karena mereka percaya Petruk bijaksana — tapi karena tidak ada yang bisa menduga Petruk akan melakukan sesuatu yang menguntungkan salah satu pihak. Ia terlalu polos untuk berkhianat. Terlalu jujur untuk berpura-pura.

Dan dalam dunia yang penuh tipu daya, kejujuran yang polos kadang-kadang terlihat seperti kebijaksanaan yang sangat dalam.

Satu per satu, mereka datang ke Tumaritis. Membawa hormat. Membawa persembahan.

Menyebut Petruk: raja.

Petruk berdiri di depan gubuknya yang atapnya masih miring, menatap iring-iringan orang yang berjejer sampai ujung jalan desa, dan tidak tahu harus berkata apa.

Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia tidak tahu harus berkata apa.

"Ini pasti salah orang," bisiknya ke Gareng yang berdiri di sebelahnya.

"Bukan," jawab Gareng pelan. "Ini salah pusaka."

"Aku tidak minta ini."

"Tidak ada raja yang pernah benar-benar minta." Gareng menatap iring-iringan itu. "Yang membedakan adalah apa yang mereka lakukan setelah mendapatkannya."

Petruk memegang tombak di tangannya — berat, hangat, seperti tanggung jawab yang belum ia mengerti bentuknya. Ia menatap wajah-wajah yang menatapnya kembali dengan penuh harap. Petani. Pedagang. Prajurit kecil. Orang-orang biasa yang bukan siapa-siapa di mata istana besar, tapi adalah segalanya di desa mereka masing-masing.

Orang-orang seperti dirinya.

"Baiklah," katanya akhirnya — dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, tanpa lelucon, tanpa celoteh panjang. "Aku tidak tahu bagaimana menjadi raja. Aku hanya tahu bagaimana menjadi Petruk."

Seseorang di kerumunan berteriak, "Itu cukup!"

Dan entah mengapa, semua yang hadir — termasuk Gareng yang skeptis dan Bagong yang masih setengah percaya — merasa bahwa itu memang benar.

Malam pertama sebagai "raja", Petruk tidak tidur di singgasana yang tiba-tiba disediakan orang-orang di balai desa.

Ia tidur di gubuknya. Di bawah atap yang miring ke kiri.

Tapi sebelum tidur, ia duduk di depan pintu, menatap langit yang penuh bintang, dan berbicara pelan — bukan kepada siapa-siapa, atau mungkin kepada semua orang sekaligus:

"Kalau besok aku mulai lupa dari mana aku berasal, tolong ada yang mengingatkan aku. Bukan dengan cara halus. Dengan cara yang berisik. Seperti cara aku mengingatkan tuanku dulu."

Angin malam bertiup dari arah timur.

Dan di suatu tempat di kejauhan, seperti jawaban, seekor jangkrik berbunyi keras sekali lalu diam.

Petruk tertawa kecil, lalu menutup matanya.

Bersambung ke bagian kedua: "Petruk Naik Tahta — Ketika Pelawak Belajar Diam"


0/Post a Comment/Comments

Iklan Banner ⚡ Iklan
Iklan Banner ⚡ Iklan