Petruk Dan Gareng: Dendam Si Loreng

Dendam Si Loreng

Petruk punya dua keahlian utama dalam hidupnya. Pertama, berbicara. Tentang apa saja, kapan saja, kepada siapa saja — termasuk kepada ayam di kandang belakang rumahnya yang ia beri nama satu per satu dan ajak diskusi setiap pagi.Kedua, masuk ke masalah yang tidak perlu.

Dan malam itu, kedua keahliannya bekerja sama dengan sempurna untuk membawanya ke tepi hutan Cikaret bersama Gareng, dengan senter murahan yang batrenya sudah hampir habis, mengejar cerita tentang harimau jadi-jadian yang bahkan Gareng sendiri tidak percaya.

"Ini ide paling bodoh yang pernah kamu punya," kata Gareng, berjalan dua langkah di belakang Petruk dengan tangan di saku dan ekspresi seseorang yang sudah menyerah pada takdirnya. "Dan kamu punya banyak ide bodoh."

"Ini bukan bodoh," kata Petruk. "Ini investigasi."

"Investigasi pakai senter hampir mati."

"Senternya masih nyala."

"Kedap-kedip itu bukan nyala, Truk."

Petruk mengangkat senternya — yang memang sedang berkedip-kedip dengan sangat tidak meyakinkan — dan mengetuknya dua kali. Cahayanya kembali stabil untuk sekitar lima detik, lalu mulai kedap-kedip lagi.

"Nah. Masih hidup."

Gareng menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ceritanya dimulai tiga hari sebelumnya, di warung Mbok Parti yang menjadi pusat informasi tidak resmi Kampung Tumaritis.

Petruk sedang minum kopi dan menguping — kegiatan favoritnya yang ia sebut menambah wawasan — ketika Pak Darmo, petani tua dari ujung kampung, masuk dengan muka pucat dan tangan gemetar.

"Si Loreng," kata Pak Darmo sebelum sempat duduk. "Saya lihat Si Loreng semalam. Di tepi hutan Cikaret."

Warung yang tadinya ramai langsung sunyi.

Petruk, yang sudah memasukkan hampir seluruh tubuh bagian atasnya ke arah meja Pak Darmo demi mendengar lebih jelas, hampir jatuh dari bangkunya.

Si Loreng adalah nama yang sudah tua di Tumaritis. Harimau mistis yang konon menghuni hutan Cikaret sejak zaman dulu — bukan harimau biasa, kata orang-orang tua, tapi harimau yang menyimpan dendam. Siapa punya dendam di hutan itu, ia yang dicari.

"Matanya kuning," lanjut Pak Darmo dengan suara bergetar. "Sebesar kepalan tangan. Dan tubuhnya — tubuhnya besar sekali, seperti bukan harimau yang ada sekarang. Lebih besar. Lebih tua."

Tiga hari kemudian, Petruk belum bisa berhenti memikirkannya.

Dan Gareng, yang sudah mengenal Petruk sejak mereka sama-sama ingusan dan berlari-larian di sawah kampung ini, tahu persis bahwa Petruk yang tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu hanya bisa berakhir satu cara.

"Kamu mau ke hutan itu, kan," kata Gareng, bukan pertanyaan, ketika Petruk datang ke rumahnya sore itu dengan ransel kecil di punggung dan ekspresi yang terlalu santai untuk orang yang tidak punya rencana.

"Cuma lihat-lihat."

"Dalam gelap."

"Lebih dramatis."

"Petruk."

"Gareng."

"Aku tidak ikut."

Dua jam kemudian, Gareng ikut.

Hutan Cikaret di malam hari adalah tempat yang berbeda dari hutan Cikaret di siang hari.

Siang hari, ia hanya hutan biasa — pohon-pohon besar, semak yang rapat, suara burung dan serangga yang ramai. Anak-anak kampung kadang masuk sampai agak dalam untuk cari buah atau sekadar bermain. Tidak ada yang terjadi.

Tapi malam hari — malam hari, sesuatu berubah.

Petruk merasakannya begitu mereka masuk sepuluh langkah dari tepi. Suara jangkrik yang tadinya ramai di luar tiba-tiba berhenti, seperti ada yang menekan tombol sunyi. Udara terasa lebih dingin dari yang seharusnya untuk malam sepanas ini. Dan baunya — bau tanah dan daun busuk yang biasa — bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berat dan hangat dan membuat bulu kuduk Petruk berdiri.

"Eh," kata Petruk, lebih pelan dari biasanya.

"Iya," kata Gareng, juga pelan. "Aku juga ngerasain."

Mereka berdua berhenti. Senter Petruk berkedip sekali, dua kali, lalu stabil.

"Kita balik?" bisik Gareng.

Petruk menelan ludah. "Masa jauh-jauh ke sini terus balik."

"Masa jauh-jauh ke sini terus mati."

"Kita tidak akan mati."

"Kamu tidak tahu itu."

"Optimis dikit, Reng."

"Ini bukan soal optimis, ini soal—"

Sesuatu bergerak di semak di sebelah kiri mereka.

Keduanya membeku.

Suara itu bukan suara kecil — bukan tikus, bukan musang, bukan apapun yang kecil. Suara sesuatu yang besar dan berat yang bergerak dengan sangat, sangat pelan. Seperti sesuatu yang tidak terburu-buru karena tahu ia tidak perlu terburu-buru.

Petruk mengarahkan senternya ke arah semak.

Dua titik kuning menyala di balik dedaunan.

"Petruk," bisik Gareng dengan suara yang hampir tidak keluar. "Itu—"

"Iya."

"Si—"

"Iya, Reng."

"Kita—"

"Jangan lari."

"AKU TIDAK BILANG MAU LARI—"

"Kamu kelihatan mau lari."

"PETRUK—"

"Diam."

Gareng diam.

Si Loreng keluar dari semak dengan cara yang tidak bisa Petruk jelaskan setelahnya kepada siapa pun — bukan melompat, bukan berjalan, tapi seperti muncul begitu saja, seperti bayangan yang tiba-tiba punya tubuh.

Tubuhnya besar. Pak Darmo tidak berlebihan. Loreng-lorengnya hitam pekat di atas oranye kecoklatan yang bahkan di bawah cahaya senter yang kedap-kedip terlihat dengan jelas. Dan matanya — mata kuning itu — menatap Petruk langsung, tanpa bergerak, tanpa berkedip.

Petruk menatap balik.

Ia tidak tahu kenapa ia tidak lari. Mungkin kakinya lupa caranya. Mungkin ada sesuatu dalam tatapan mata kuning itu yang membuatnya diam — bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti pertanyaan.

Di sebelahnya, Gareng tidak bernafas. Atau bernafas tapi sangat sangat pelan.

Si Loreng tidak bergerak.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak ada dalam cerita mana pun yang pernah Petruk dengar tentangnya.

Ia duduk.

Bukan ancaman. Bukan persiapan melompat. Ia duduk seperti kucing yang memutuskan ia tidak dalam suasana hati untuk menyerang, dengan ekornya menyapu tanah sekali pelan.

Dan ia terus menatap Petruk.

"Reng," bisik Petruk.

"Apa," bisik Gareng.

"Menurutmu dia mau apa?"

"Menurutku dia mau makan kita."

"Tapi dia duduk."

"Mungkin dia mau makan kita sambil duduk."

"Reng."

"APA, PETRUK."

Si Loreng menoleh ke arah Gareng sebentar. Gareng langsung tutup mulut. Si Loreng kembali menatap Petruk.

Dan kemudian — Petruk tidak yakin ini nyata atau ia sudah mulai halusinasi karena ketakutan — Si Loreng menoleh ke arah kiri. Ke arah dalam hutan yang lebih gelap. Menatap ke sana sebentar. Lalu menoleh balik ke Petruk.

Lalu ke kiri lagi.

Lalu ke Petruk.

"Dia... mau menunjukkan sesuatu?" bisik Petruk.

"Jangan," bisik Gareng. "Jangan ikuti logika itu."

"Tapi dia—"

"Petruk. Itu harimau. Bukan pemandu wisata."

Si Loreng berdiri. Berjalan tiga langkah ke arah kiri. Berhenti. Menoleh ke Petruk.

"Oke," kata Petruk. "Dia mau menunjukkan sesuatu."

"PETRUK—"

"Ikut."

Mereka mengikuti Si Loreng masuk lebih dalam ke hutan Cikaret.

Ini, Gareng sudah memutuskan, adalah titik di mana ia akan menceritakan kisah ini kepada cucu-cucunya kelak sebagai contoh mengapa seseorang tidak boleh berteman dengan Petruk.

Si Loreng berjalan di depan mereka — tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, seperti memastikan dua manusia bodoh di belakangnya bisa mengikuti. Sekali-sekali ia menoleh, memastikan mereka masih ada.

Tiga menit. Lima menit.

Lalu mereka tiba di sebuah pohon besar yang akarnya menjulur-julur di atas tanah seperti lengan raksasa.

Di antara akar-akar itu, ada sesuatu.

Petruk mengarahkan senternya — dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa lega bahwa senternya masih menyala, kedap-kedip atau tidak.

Di antara akar pohon itu, ada seekor harimau muda. Kecil — mungkin baru beberapa minggu umurnya. Tubuhnya tergeletak miring, nafasnya terlihat dari gerak perutnya yang naik turun pelan. Dan di salah satu kakinya, melilit erat, kawat berduri yang sepertinya dari pagar ladang — dan anaknya terjerat saat masuk terlalu dalam, tidak bisa melepaskan diri.

Si Loreng berdiri di samping anaknya. Ia mendengus pelan — bukan ancaman, tapi sesuatu yang terdengar seperti kata tolong dalam bahasa yang tidak punya huruf.

Petruk dan Gareng saling pandang.

"Anaknya," bisik Gareng.

"Iya."

"Dia minta bantuan kita."

"Iya."

"Harimau minta tolong ke manusia."

"Iya, Reng."

"Ini benar-benar malam yang aneh."

"Sangat aneh." Petruk sudah berlutut, meletakkan senter di antara akar supaya cahayanya terarah, dan mengeluarkan pisau kecil dari sakunya. "Pegang senternya supaya tidak geser."

Gareng berlutut di sebelahnya. Mengambil senter. Mengarahkannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Kalau induknya tiba-tiba menyerang kita," bisik Gareng, "aku tidak bertanggung jawab."

"Dia tidak akan menyerang."

"Darimana kamu tahu?"

"Karena dia minta tolong." Petruk mulai bekerja pada kawat berduri itu — hati-hati, sangat hati-hati, karena kawatnya masuk cukup dalam dan anaknya kesakitan. "Binatang yang minta tolong tidak menyerang orang yang menolong."

"Itu logika yang kamu karang sendiri."

"Tapi masuk akal, kan?"

Gareng tidak menjawab. Karena memang masuk akal, dan ia tidak mau mengakuinya.

Dua puluh menit kemudian, kawat itu lepas.

Anak harimau itu mengeluarkan suara kecil — lebih mirip suara anak kucing daripada harimau — dan langsung bergerak ke arah induknya. Si Loreng menjilati anaknya panjang-lebar, lalu menoleh ke Petruk.

Mereka bertatapan lagi. Mata kuning itu sekarang berbeda — masih besar, masih dalam, tapi tidak lagi mengandung pertanyaan. Lebih seperti pernyataan.

Si Loreng mendengus sekali. Pelan.

Lalu ia mengambil anaknya — menggigit tengkuknya dengan lembut seperti yang dilakukan semua induk kucing — dan berjalan masuk ke dalam kegelapan.

Loreng-lorengnya menghilang. Mata kuningnya yang terakhir padam.

Hutan kembali sunyi.

Lalu, pelan-pelan, suara jangkrik mulai kembali. Satu, dua, lalu ramai seperti sebelumnya. Udara terasa lebih hangat. Dan bau itu — bau berat yang hangat — menghilang bersama pemiliknya.

Petruk dan Gareng duduk di antara akar pohon besar itu, berdampingan, dengan senter yang masih kedap-kedip di antara mereka.

"Jadi," kata Gareng akhirnya. "Si Loreng."

"Si Loreng," angguk Petruk.

"Dendamnya."

"Bukan dendam ke kita, ternyata."

"Lalu dendam ke siapa?"

Petruk menatap ke arah kegelapan tempat Si Loreng menghilang. "Mungkin ke kawat berduri itu. Ke siapa pun yang masang jebakan di hutannya."

Gareng diam sebentar. "Berarti cerita orang-orang yang menghilang di hutan ini—"

"Mungkin mereka yang pasang jebakan. Atau tebang pohon sembarangan. Atau ambil apa yang bukan milik mereka di sini." Petruk berdiri, menepuk tanah dari celananya. "Si Loreng tidak menyerang orang yang tidak bersalah. Pak Usman pernah bilang itu."

"Pak Usman bilang itu sebagai peringatan, bukan sebagai fakta yang kamu verifikasi langsung dengan masuk ke hutannya."

"Tapi sekarang kita tahu itu benar."

Gareng berdiri juga. Menatap Petruk dengan ekspresi yang sudah sangat lelah. "Aku tidak akan pernah mau akui ini di depan orang lain."

"Akui apa?"

"Bahwa malam ini tidak sia-sia."

Petruk tersenyum lebar — senyum khasnya yang terlalu lebar untuk mukanya sendiri. "Aku catat itu, Reng."

"Jangan."

"Sudah."

Mereka berjalan keluar dari hutan Cikaret berdampingan — senter kedap-kedip di tangan Petruk, tangan di saku di tangan Gareng — dengan langkah yang lebih ringan dari waktu mereka masuk.

Di tepi hutan, udara kampung menyambut mereka. Hangat, familiar, berbau asap dapur dan rumput basah.

Petruk berhenti sebentar. Menoleh ke belakang, ke hutan yang gelap dan sunyi.

"Makasih ya," katanya pelan — ke arah tidak ada yang terlihat, tapi ke arah yang ia rasa perlu diucapkan.

Dari dalam kegelapan, tidak ada suara.

Tapi di suatu tempat jauh di dalam, sepasang mata kuning menyala sebentar.

Lalu padam.

Keesokan paginya, di warung Mbok Parti, Petruk bercerita tentang malam itu dengan antusias yang sudah tidak mengejutkan siapa pun.

Yang mengejutkan adalah Gareng — yang biasanya membantah semua versi cerita Petruk — duduk di sebelahnya dan tidak membantah satu kata pun.

Mbok Parti menatap Gareng. "Kamu tidak protes?"

"Kali ini ceritanya benar," kata Gareng, menyesap kopinya.

Warung itu sunyi sebentar.

Lalu semua orang bicara sekaligus.

Dan Petruk, dengan hidung panjangnya yang mendongak bangga, memesan gorengan tambahan untuk merayakan fakta bahwa malam tadi ia hampir mati tapi tidak jadi — yang menurutnya adalah alasan yang sangat valid untuk makan lebih banyak.

— Tamat —

Catatan: Cerpen ini adalah fiksi yang terinspirasi dari karakter Petruk dan Gareng dalam tradisi budaya Jawa, dihadirkan sebagai dua pemuda kampung biasa dalam setting cerita rakyat horor Nusantara. Judul terinspirasi dari gaya horor komik Indonesia era 80-90an.

0/Post a Comment/Comments

Iklan Banner ⚡ Iklan
Iklan Banner ⚡ Iklan