Jangan Keluar Sebelum Fajar: Mereka tidak seharusnya berada di sini.

Thriller Jangan Keluar Sebelum Fajar


Mobil mereka masuk parit di tengah hutan. Tidak ada sinyal. Tidak ada bantuan. Hanya kabin tua, malam yang gelap — dan seseorang di luar sana yang tahu mereka ada di dalam. Lara dan Vano punya satu pilihan: bertahan sampai fajar, atau mati mencoba.

Itu adalah kalimat pertama yang melintas di benak Lara ketika mobilnya tergelincir di jalan tanah yang berlumpur dan moncongnya menghantam parit dengan bunyi logam yang menyayat. Mesin mati. Lampu depan redup sebentar, lalu gelap total. Di luar, hutan pinus berdiri rapat seperti tembok hitam yang tidak punya pintu.

"Lara." Suara Vano dari kursi penumpang — tenang, tapi dengan ketegangan di bawahnya yang hanya Lara yang bisa dengar setelah dua belas jam berkendara bersama. "Kamu baik-baik saja?"

"Mobil tidak."

Mereka turun. Hujan rintik-rintik. Lumpur menghisap sol sepatu Lara setiap kali ia melangkah. Lampu ponselnya menerangi parit dangkal tempat ban depan mobilnya terbenam, dan ia tahu tanpa perlu mekanik untuk bilang bahwa mereka tidak akan ke mana-mana malam ini.

Vano berdiri di sampingnya, jaketnya sudah basah di bahu. Ia mengeluarkan ponselnya, mengangkat ke atas kepala, memutar badan — ritual sia-sia yang sudah pasti Lara tahu hasilnya.

"Tidak ada sinyal."

"Tentu saja tidak ada sinyal."

"Ada kabin di peta offline yang aku unduh tadi." Vano memperbesar layar, menunjukkannya ke Lara. Titik kecil di antara kontur-kontur hijau yang rapat. "Sekitar dua kilometer ke utara. Kalau jalan kaki—"

"Dua kilometer dalam gelap dan hujan."

"Atau kita tidur di mobil dan menunggu pagi." Vano menatapnya. Matanya terlihat lebih gelap dari biasanya di bawah cahaya ponsel — atau mungkin itu hanya Lara yang sudah terlalu lama tidak tidur. "Kamu yang pilih."

Lara menatap hutan di depannya. Menatap mobil yang setengah terbenam di parit. Menatap langit yang tidak punya bintang.

"Ambil tas," katanya.


Dua kilometer terasa seperti sepuluh dalam gelap.

Mereka berjalan dengan lampu ponsel bergantian — satu menerangi jalan, satu disimpan untuk cadangan. Hutan di sekitar mereka berbunyi: ranting yang patah di suatu tempat, suara air mengalir di kejauhan, dan sekali, sesuatu yang bergerak di semak-semak terlalu besar untuk jadi tupai.

"Itu hanya rusa," kata Vano.

"Kamu tidak tahu itu."

"Kamu lebih suka kalau aku bilang apa?"

Lara tidak menjawab. Ia merapatkan jaketnya dan terus berjalan.

Mereka sudah enam bulan bekerja bersama — Lara sebagai fotografer investigasi, Vano sebagai jurnalis yang menulis laporan tentang pembalakan liar di kawasan hutan lindung yang seharusnya dilindungi dan nyatanya tidak. Perjalanan ini seharusnya dua hari: rekam, foto, pulang. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah jalan yang tidak ada di peta resmi, koordinat yang ternyata meleset empat belas kilometer dari yang diperkirakan, dan hujan yang mulai turun sejak siang dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.

Dan yang paling tidak sederhana adalah fakta bahwa tiga jam lalu, di persimpangan jalan tanah sebelum mobilnya masuk parit, Lara melihat cahaya lain di cermin spion — lampu kendaraan yang mengikuti mereka sejak keluar dari kota terakhir, dan menghilang tepat ketika ia mencoba mempercepatkan laju mobilnya.

Ia belum bilang ke Vano.

Belum.


Kabin itu nyata.

Kayu tua, atap seng yang berkarat, jendela dengan papan yang sebagian sudah lepas. Tapi pintunya tidak terkunci — atau lebih tepatnya, kuncinya sudah lama rusak dan pintu itu bisa didorong masuk dengan satu tekanan bahu. Di dalamnya: dua kasur lipat berdebu, kompor minyak tanah yang masih punya isi setengah, dan sekotak korek api di atas rak kayu.

Vano menyalakan kompor. Cahaya oranye kecil itu membuat seluruh kabin terasa sedikit kurang seperti tempat di mana orang bisa mati.

"Ada selimut di sana." Lara menunjuk peti kayu di sudut ruangan. "Mungkin berjamur tapi—"

"Lebih baik dari tidak ada."

Mereka tidak berbicara banyak selagi berganti pakaian — Lara membalik badannya, Vano melakukan hal yang sama, keduanya berpura-pura bahwa itu adalah prosedur normal di antara dua orang dewasa yang harus berbagi ruangan tiga kali empat meter untuk satu malam. Lara mengenakan kaus kering satu-satunya yang ada di tasnya dan celana training tipis, lalu duduk di kasur yang kurang berdebu dari dua pilihan yang ada.

Vano duduk di kasur yang satunya. Kompor minyak tanah berdiri di antara mereka seperti api unggun kecil di antara dua kamp yang belum memutuskan apakah mereka kawan atau lawan.

"Ada yang mau kamu ceritakan?" tanya Vano.

Lara mendongak. "Maksudnya?"

"Kamu sudah melihat sesuatu di cermin spion." Bukan pertanyaan. "Tiga jam lalu. Di persimpangan sebelum kita masuk parit."

Lara menatapnya. "Kamu lihat juga?"

"Aku lihat kamu menegang." Vano menyilangkan lengannya. "Dan kamu tidak bilang apa-apa. Yang berarti kamu tidak mau aku panik. Yang berarti itu serius."

Lara menghela napas. Menjelaskan dengan singkat — lampu kendaraan, jarak yang terlalu konsisten untuk kebetulan, hilangnya yang terlalu tepat waktu.

Vano diam beberapa saat. "Bisa jadi warga lokal."

"Bisa."

"Atau bisa jadi orang yang tidak senang dengan liputan kita."

"Bisa juga."

Mereka sudah menulis tentang nama-nama besar. Konsesi hutan yang ditandatangani dengan tinta yang seharusnya tidak ada. Orang-orang yang punya alasan sangat konkret untuk memastikan laporan itu tidak pernah terbit.

"Kita tidak bisa keluar sebelum fajar," kata Vano. "Dalam gelap kita tidak tahu arahnya, dan kalau memang ada yang mengikuti, malam adalah keuntungan mereka bukan kita."

"Aku tahu."

"Jadi kita tunggu."

"Aku tahu, Vano."

Ia berbaring, memandang langit-langit kayu yang bercak-bercak air. Di luar, hujan mengeras lagi, menghantam atap seng dengan bunyi yang hampir seperti tepuk tangan. Kompor minyak tanah mendesis pelan.

Lara menutup matanya. Mencoba.

Tidak bisa.


Ia tidak tahu pukul berapa ketika suara itu datang.

Bukan hujan. Bukan hutan. Sesuatu yang berbeda — bunyi langkah di tanah basah, berat dan disengaja, berhenti tepat di luar pintu kabin.

Lara duduk tegak dalam gelap. Kompor sudah padam, entah kapan. Ia meraih ponselnya — baterai dua belas persen — dan menahan napas.

Kasur di seberang berderit. Tangan Vano menemukan lengannya dalam gelap — bukan mencari pegangan, tapi memberi tahu: aku dengar juga.

Mereka tidak bergerak. Tidak bernapas keras.

Langkah itu berputar di sekitar kabin. Pelan. Metodis. Berhenti di dekat jendela yang papannya setengah lepas. Lara bisa melihat, di celah papan itu, cahaya senter yang menyapu bagian dalam kabin — dan ia menarik tubuhnya lebih dalam ke bayangan, Vano melakukan hal yang sama, keduanya nyaris tidak bernapas.

Cahaya itu berhenti.

Diarahkan tepat ke kasur Lara yang kosong — ia belum kembali ke kasurnya setelah bangkit.

Sedetik. Dua detik.

Lalu cahaya itu bergerak pergi. Langkah-langkah itu menjauh, perlahan, sampai hanya hujan yang tersisa.

Lara baru menyadari bahwa Vano masih memegang lengannya — dan ia masih membiarkannya. Bahunya menempel ke bahunya di sudut gelap kabin yang bau tanah dan kayu tua. Napas mereka bercampur di udara dingin.

"Kita harus pergi sebelum mereka kembali," bisik Vano.

"Aku bilang jangan keluar sebelum fajar."

"Fajar masih dua jam lagi dan orang itu tahu kita di sini."

Lara memutar kepalanya. Di dekat jarak ini, dalam gelap ini, ia bisa merasakan panas tubuhnya meski udara di luar membeku. Ada momen-momen ekstrem yang melucuti semua lapisan yang biasanya orang pasang di antara mereka dan orang lain — dan ini salah satunya. Ketakutan yang jujur. Tubuh yang tidak pura-pura.

"Kalau kita bergerak sekarang, kita butuh diam total," katanya. "Tidak ada lampu. Kamu ikuti aku dan tidak bertanya dulu."

"Aku tidak pernah bertanya dulu."

"Kamu selalu bertanya dulu."

"Malam ini tidak."

Mereka bergerak dalam gelap total, meraba dinding, menemukan tas masing-masing, membuka pintu dengan kecepatan yang membutuhkan kesabaran yang hampir menyakitkan. Udara luar menghantam kulit Lara seperti air es. Hutan di depannya hitam pekat.

Tapi di timur — sangat samar, hampir tidak nyata — ada garis merah muda pertama di langit yang mulai menipis gelapnya.

Belum fajar. Tapi mendekati.

Lara menarik napas. Menggenggam tali tasnya. Melangkah ke dalam hutan.

Vano mengikutinya tanpa satu kata pun.


Mereka menemukan jalan raya dua setengah jam kemudian — berlumpur, kelelahan, dengan goresan di lengan Lara dari semak berduri yang tidak terlihat dalam gelap. Truk pertama yang lewat berhenti ketika Vano melambai dari pinggir jalan, dan pengemudi tua yang tidak banyak tanya itu mengantarkan mereka ke kota kecamatan terdekat.

Di warung kopi yang baru buka, dengan dua cangkir di tangan dan sinyal ponsel yang akhirnya kembali, Lara mengirim semua file foto ke server cadangan, mengenkripsinya, lalu mengirim notifikasi ke redaktur bahwa materi sudah aman.

Vano duduk di hadapannya, meluruskan punggungnya, menatap ke luar jendela ke jalan yang mulai ramai.

"Kamu tidak pernah bilang takut semalam," katanya.

"Kamu juga tidak."

"Aku takut."

"Aku tahu." Lara menyesap kopinya. "Aku juga."

Vano menatapnya — dengan ekspresi yang tidak ia sembunyikan, yang ia biarkan ada di wajahnya tanpa bingkai profesional yang biasanya mereka pasang di antara satu sama lain selama enam bulan ini.

"Setelah laporan ini tayang," katanya pelan, "aku mau mengajak kamu makan malam. Bukan rapat. Bukan briefing. Makan malam."

Lara meletakkan cangkirnya. Menatapnya balik, dengan cara yang sama — tanpa bingkai.

"Tanya lagi setelah kita pastikan tidak ada yang mau membunuh kita."

Vano tertawa kecil — tawa pertama yang Lara dengar darinya sejak dua belas jam lalu. "Deal."

Di luar, matahari akhirnya naik penuh. Jalan beraspal memantulkan cahayanya — hangat, nyata, dan terasa seperti sesuatu yang layak diperjuangkan.


Catatan: kisah di atas adalah fiksi.

0/Post a Comment/Comments

Iklan Banner ⚡ Iklan
Iklan Banner ⚡ Iklan