Bukan karena ia terlalu bersemangat — lebih karena ia takut nyasar di gedung baru dan lebih memilih nyasar lebih awal daripada terlambat. Alhasil ia berdiri di depan lift lantai tujuh gedung Arvana Studio dengan map lamaran di tangan dan ekspresi seseorang yang baru sadar bahwa bajunya terlalu formal untuk kantor kreatif yang dindingnya penuh mural warna-warni.
"Eh, kamu yang baru?"
Naya menoleh.
Di depannya berdiri seorang pria dengan kemeja flanel biru, rambut sedikit berantakan, dan kacamata yang sedikit miring ke kanan. Usianya mungkin awal tiga puluhan. Wajahnya biasa — bukan tidak tampan, tapi bukan jenis yang langsung membuat orang menoleh dua kali di jalan. Yang membuat Naya memperhatikannya adalah caranya berdiri: sedikit canggung, tangan di saku, seperti ia sendiri tidak yakin mau bilang apa selanjutnya.
"Iya, Pak," jawab Naya. "Naya. Staff konten baru."
"Oh." Pria itu mengangguk. Lalu diam sebentar. Lalu berkata, "Selamat datang," dengan nada yang terdengar seperti ia baru mengingat bahwa itu kalimat yang seharusnya diucapkan di situasi ini.
Lalu ia masuk ke lift duluan.
Naya mengikuti. Di dalam lift, mereka berdiri dalam diam yang cukup awkward sampai pintunya terbuka di lantai tujuh dan pria itu keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Naya berdiri di depan meja resepsionis dan bertanya siapa tadi orangnya.
Resepsionis menatapnya sebentar. "Oh, itu Mas Andri. Direktur Kreatif. Bos kamu."
Naya menatap punggung pria berflanel biru yang menghilang ke dalam ruangan kaca di ujung ruangan.
Itu bosnya.
Arvana Studio adalah perusahaan konten digital kecil tapi namanya cukup dikenal di industri kreatif Jakarta. Dua puluh tiga karyawan, satu lantai, suasana kerja yang lebih mirip basecamp mahasiswa daripada kantor formal — ada bean bag di sudut, ada papan sticky note warna-warni di mana-mana, ada kulkas kaca penuh minuman yang boleh diambil siapa saja.
Dan di tengah semua itu, Andri Saputra — direktur kreatif berusia tiga puluh tahun — adalah orang yang paling tidak cocok dengan suasana ramai itu.
Ia pendiam. Lebih sering menulis email daripada bicara langsung. Kalau harus presentasi di depan tim, ia selalu memegang sesuatu di tangan — pulpen, sticky note, apapun — dan sering menatap ke arah sedikit di atas kepala audiensnya daripada langsung ke mata mereka.
Tapi anehnya — atau mungkin justru karena itulah — semua orang di Arvana suka padanya. Karena meski ia pendiam, ia tidak pernah abai. Ia yang pertama notice kalau seseorang kelihatan kelelahan. Ia yang mengingat ulang tahun semua karyawannya tanpa perlu diingatkan. Ia yang mengirim pesan singkat hasilnya bagus setelah seseorang menyelesaikan proyek sulit.
Naya belajar semua ini dari Olin, rekan satu mejanya, dalam dua hari pertama kerja.
"Mas Andri itu baik banget sih sebenernya," kata Olin sambil menyedot minumannya. "Cuma memang anaknya malu-maluin. Bukan malu-malu kucing lho ya, tapi beneran introvert parah."
"Bos sebelumnya gimana?" tanya Naya.
"Lebih galak. Lebih banyak ngomong. Tapi lebih sedikit dengerin." Olin mengedikkan bahu. "Mas Andri kebalikannya. Jarang ngomong, tapi kalau kamu lagi butuh bantuan dia yang pertama datang."
Naya menatap pintu ruangan kaca di ujung ruangan — tempat Andri bekerja. Melalui kacanya yang bening, ia bisa melihat pria itu sedang membaca sesuatu di layar dengan kening sedikit berkerut dan tangan menyangga dagu.
Perhatian itu datang pelan-pelan, seperti hal-hal yang tidak disengaja.
Minggu pertama, Naya mengirim draf konten pertamanya dengan sangat tidak yakin. Setengah jam kemudian, ada email masuk dari Andri: Strukturnya sudah bagus. Bagian ketiga perlu diperkuat sedikit. Coba lagi, kamu pasti bisa.
Tiga kalimat. Tapi cukup untuk membuat Naya tersenyum di depan laptopnya.
Minggu kedua, Naya lembur sendirian menyelesaikan revisi. Tiba-tiba ada seseorang meletakkan sebotol teh hangat di pojok mejanya. Ia mendongak — Andri sudah berjalan balik ke arah kantornya, tanpa menoleh, seperti tidak terjadi apa-apa.
Minggu ketiga, Naya salah masuk ruang rapat dan menemukan Andri di dalamnya sendirian sedang makan siang dengan earphone di telinga. Ia langsung mau mundur tapi Andri sudah melihatnya. Keduanya membeku selama dua detik.
"M-maaf, Mas, saya salah ruangan—"
"Nggak apa-apa." Andri melepas earphonenya. "Mau istirahat di sini juga boleh."
"Oh, nggak usah, Mas, saya—"
"Ruangannya cukup." Ia menunjuk kursi di sisi berlawanan meja. "Lebih tenang dari luar."
Naya ragu sebentar. Lalu duduk.
Mereka makan siang dalam diam yang anehnya tidak canggung — diam yang terasa seperti dua orang yang sama-sama nyaman tidak harus mengisi setiap detik dengan suara.
Setelah itu, makan siang di ruang rapat itu jadi kebiasaan yang tidak pernah mereka bicarakan tapi sama-sama lakukan.
Masalah bernama Tiara Wijaya muncul di minggu keempat.
Tiara adalah manajer distribusi — cantik, percaya diri, dan sudah setahun belakangan secara konsisten berusaha menarik perhatian Andri dengan berbagai cara yang semakin hari semakin tidak halus.
Membawakan kopi setiap pagi ke meja Andri — yang selalu diterima Andri dengan sopan dan selalu lupa diminum sampai dingin.
Selalu punya alasan untuk masuk ke ruangan Andri — yang selalu diladeni Andri dengan profesional dan tidak satu pun pernah berlanjut ke percakapan di luar pekerjaan.
Duduk di sebelah Andri di setiap rapat — yang Andri tidak pernah protes tapi juga tidak pernah memulai percakapan duluan.
Semua orang di kantor tahu. Semua orang juga tahu bahwa Andri sepertinya tidak tahu — atau lebih tepatnya, tahu tapi tidak tahu harus merespons apa sehingga memilih tidak merespons sama sekali.
Yang berubah sejak Naya datang adalah: Tiara mulai memperhatikan bahwa Andri yang biasanya tidak merespons siapa pun ternyata merespons seseorang.
Dan itu bukan dia.
"Kamu tahu nggak sebenernya di sini ada hierarki tidak tertulis?" kata Tiara suatu siang, berdiri di samping meja Naya dengan senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya.
Naya mendongak dari laptopnya. "Hierarki apa, Kak?"
"Yang baru itu belajar dulu. Tidak langsung sok akrab sama semua orang." Tiara mengetuk meja Naya pelan. "Apalagi sama yang levelnya jauh di atas."
Naya menatapnya. "Maaf, maksud Kak Tiara?"
"Nggak ada maksud khusus." Tiara tersenyum. "Selamat bekerja, ya."
Ia pergi. Naya menatap punggungnya, lalu menatap layar laptopnya, lalu menghela napas panjang.
Olin yang duduk di sebelahnya berbisik tanpa mengangkat muka dari layarnya sendiri: "Selamat. Kamu resmi masuk radar Kak Tiara."
"Itu bagus atau buruk?"
"Dua-duanya."
Konfrontasi pertama yang terbuka terjadi di pantry.
Naya sedang mencuci gelas ketika Tiara masuk dan langsung bicara tanpa basa-basi.
"Kamu sengaja ya, dekat-dekat sama Mas Andri?"
Naya meletakkan gelasnya. "Saya tidak melakukan apa-apa yang di luar pekerjaan, Kak."
"Makan siang bareng di ruang rapat itu pekerjaan?"
"Mas Andri yang mengizinkan—"
"Mas Andri baik sama semua orang." Tiara melipat tangannya. "Jangan salah baca situasi."
Naya menatapnya sebentar. "Kak Tiara yang salah baca situasi atau saya?"
Hening.
"Maaf kalau terdengar tidak sopan," lanjut Naya lebih pelan. "Tapi saya ke sini untuk kerja. Kalau ada yang Kak Tiara tidak suka dari cara saya bekerja, saya siap disampaikan langsung. Tapi kalau soal di luar itu—" Naya mengambil gelasnya dan berjalan ke pintu. "Itu bukan urusan saya."
Ia keluar.
Di pantry yang sunyi, Tiara berdiri sendirian dengan ekspresi yang sulit dibaca — antara marah dan sesuatu yang lebih dekat ke sadar.
Yang tidak ada yang tahu — kecuali Olin yang memang tahu segalanya — adalah bahwa Andri sudah lama menyimpan sesuatu yang tidak ia tahu cara mengeluarkannya.
Bukan karena ia tidak berani. Lebih karena ia terlalu berhati-hati — terlalu sadar posisinya sebagai atasan, terlalu tidak mau membuat situasi tidak nyaman, terlalu takut salah mengira perasaannya sendiri.
Sampai suatu sore, Olin mampir ke ruangan Andri dengan alasan menyerahkan laporan dan menyempatkan diri berkata dengan sangat santai: "Mas, kalau nunggu momen yang sempurna, nggak akan pernah ada."
Andri menatapnya. "Kamu ngomong apa?"
"Laporan mingguan, Mas." Olin meletakkan dokumennya di meja. "Selamat sore."
Ia keluar.
Andri menatap pintu yang tertutup, lalu menatap laporan mingguan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang baru dikatakan Olin, lalu menatap ke arah meja Naya yang terlihat dari kaca ruangannya.
Ia menarik napas panjang.
Hari Jumat. Jam setengah enam sore. Hampir semua orang sudah pulang.
Naya sedang merapikan mejanya ketika Andri keluar dari ruangannya — sudah pakai jaket, tas di bahu, kacamata yang masih sedikit miring ke kanan.
"Naya."
Ia berhenti. "Iya, Mas?"
Andri berdiri di depannya dengan ekspresi yang Naya belum pernah lihat sebelumnya — seseorang yang sudah memutuskan sesuatu dan sedang mencari kata-katanya.
"Kamu..." ia memulai, berhenti, memulai lagi. "Kamu sudah tiga bulan di sini."
"Iya, Mas."
"Kerja kamu bagus."
"Terima kasih, Mas."
Hening. Andri menatap ke arah sedikit di atas bahu Naya — kebiasaannya kalau tidak bisa menatap langsung — lalu dengan usaha yang jelas ia kumpulkan, ia alihkan tatapannya tepat ke mata Naya.
"Ini mungkin tidak pada tempatnya," katanya pelan. "Dan kamu boleh pura-pura tidak dengar setelah ini kalau mau. Tapi saya tidak mau terus diam dan akhirnya menyesal."
Naya tidak bernapas.
"Saya suka kamu," kata Andri. Tiga kata yang keluar lebih sederhana dari semua persiapan yang jelas sudah ia lakukan. "Bukan sebagai bawahan. Tapi sebagai... kamu. Sebagai orang." Ia menyesuaikan kacamatanya — gerakan nervous yang Naya sudah hafal. "Kalau kamu tidak nyaman, saya minta maaf dan kita lupakan ini. Tapi kalau kamu—"
"Mas Andri."
Ia berhenti.
"Saya juga," kata Naya.
Andri menatapnya. "Juga apa?"
"Juga suka." Naya tersenyum kecil. "Sudah dari minggu ketiga sebenernya. Waktu Mas naruh teh hangat di meja saya tanpa bilang apa-apa."
Andri diam sebentar. Lalu ekspresi di wajahnya berubah — pelan-pelan, seperti seseorang yang baru diizinkan merasa lega setelah lama menahan napas.
Dan untuk pertama kalinya sejak Naya mengenalnya, Andri tersenyum dengan cara yang sampai ke matanya.
Kabar itu menyebar di kantor dengan kecepatan yang tidak bisa dicegah.
Bukan karena ada yang mengumumkan — tapi karena Olin, dengan bakat observasinya yang sudah teruji, melihat keduanya pulang bersama dari arah lift pada Jumat malam itu dan keesokan harinya sudah tahu bahwa ada sesuatu yang berubah dari cara Andri menatap Naya di rapat Senin pagi.
"Akhirnya," kata Olin ke dirinya sendiri sambil menyedot minumannya.
Tiara mendengar kabarnya dari sekretaris, dua hari kemudian. Ia berdiri di depan pantry dengan ekspresi yang sangat susah ia sembunyikan — campuran terkejut, tidak terima, dan di lapisan paling bawahnya, sesuatu yang terasa seperti malu.
Malu karena ia sudah bersikap tidak menyenangkan kepada orang yang ternyata tidak melakukan apa pun yang salah.
Malu karena semua energi yang ia habiskan selama setahun ternyata ditujukan ke seseorang yang memang tidak pernah, dan tidak akan pernah, melihatnya dengan cara itu.
Ia masuk ke pantry, menuangkan air, dan meminum seluruh gelasnya dalam satu tegukan.
Lalu ia keluar, berjalan ke meja Naya, dan berdiri di sana sampai Naya mendongak.
"Naya."
"Iya, Kak?"
Tiara diam sebentar. Ini bukan hal yang mudah bagi orang seperti dirinya. "Maaf soal yang dulu-dulu."
Naya menatapnya. Tidak ada kemenangan di matanya — hanya seorang gadis yang menerima permintaan maaf dengan cara yang terasa tulus. "Nggak apa-apa, Kak."
Tiara mengangguk sekali, lalu pergi.
Olin yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari balik layar laptopnya mencatat dalam hati: chapter selesai.
Enam bulan kemudian, di rapat bulanan yang dihadiri seluruh tim Arvana Studio, Andri mengumumkan satu hal di akhir sesi.
"Ada perubahan struktur kecil yang ingin saya sampaikan." Ia membuka slide terakhir. "Mulai bulan depan, posisi Koordinator Konten Senior resmi diisi oleh Naya Pramesti."
Ruangan itu riuh sebentar — tepuk tangan, beberapa siulan bercanda dari yang sudah tahu, dan satu komentar dari sudut ruangan: "Sekalian jadi ibu bos sekalian, Nay!"
Naya tertawa kecil, telinganya sedikit merah.
Andri menutup laptopnya dan berpura-pura tidak mendengar komentar itu — tapi Olin, yang duduk tepat di sebelah Andri, bisa melihat bahwa pria itu sedang menahan senyum dengan susah payah.
Di lobi gedung, menjelang pulang, Naya berdiri menunggu lift dengan Andri di sampingnya.
"Ibu bos," kata Andri pelan, tanpa menoleh.
"Jangan."
"Itu bukan dari saya."
"Tapi Mas ketawa."
"Saya tidak ketawa."
"Mas hampir ketawa."
Lift terbuka. Mereka masuk. Pintu tertutup.
Di dalam lift yang berjalan turun, Andri menyesuaikan kacamatanya yang miring ke kanan — kebiasaan yang Naya sudah hafal dan sudah memutuskan akan ia sukai seumur hidupnya.
"Terima kasih sudah bertahan," kata Andri.
"Bertahan dari apa?"
"Dari semua yang canggung di awal." Ia menatap pintu lift. "Saya tahu saya tidak mudah."
Naya menatap profilnya — pria yang pendiam, yang perhatiannya datang dalam bentuk teh hangat dan tiga kalimat email dan ruang makan siang yang tidak pernah ramai.
"Justru itu yang bikin betah," katanya.
Lift berhenti di lobi. Pintu terbuka ke arah sore yang sudah mulai keemasan.
Mereka berjalan keluar bersama — tidak buru-buru, tidak ke arah yang berbeda — ke arah yang sama, untuk pertama kalinya, tanpa perlu berpura-pura itu kebetulan.
— Tamat —

Posting Komentar