Bukan Soal Jabatan

Bukan Soal Jabatan

Reza tahu persis di mana letak semua tong sampah di lantai dua belas gedung Navara Corp. Ia tahu jam berapa mesin kopi di pantry mulai macet kalau tidak dipanaskan lebih dulu. Ia tahu meja pojok ruang rapat nomor tiga goyah di kaki kirinya dan perlu diganjal lipatan kertas. Ia tahu lorong mana yang ACnya terlalu dingin dan lorong mana yang tidak dingin sama sekali.

Dua tahun bekerja sebagai office boy membuat Reza hafal gedung itu seperti ia hafal punggung tangannya sendiri.

Yang tidak ia duga adalah bahwa bos termuda di lantai itu — Dira Kusuma, Kepala Divisi Kreatif usia dua puluh delapan tahun — ternyata juga memperhatikannya dengan seksama.

Semuanya dimulai dari presentasi yang hampir berantakan.

Dira baru tiga bulan menjabat ketika klien besar dari Singapura datang untuk kunjungan mendadak. Proyektor ruang rapat utama mati lima belas menit sebelum presentasi dimulai. Tim IT tidak bisa dihubungi. Para manajer saling pandang dengan ekspresi panik yang mereka coba sembunyikan di balik wajah profesional.

Reza yang kebetulan sedang melewati lorong dengan trolley kebersihan, melihat pintu ruang rapat terbuka dan ekspresi Dira yang berdiri di depan layar mati dengan tenang yang dipaksakan.

Ia masuk tanpa diminta.

Dua menit kemudian, proyektor menyala. Ternyata masalahnya hanya kabel adaptor yang tidak terpasang sempurna — sesuatu yang tidak terpikirkan oleh siapa pun karena semua orang terlalu panik untuk memeriksa hal paling sederhana.

Dira menatapnya. "Kamu tahu soal proyektor?"

"Sedikit, Bu." Reza sudah bergerak mundur. "Maaf sudah mengganggu, saya permisi—"

"Tunggu." Dira menghentikannya. "Siapa namamu?"

"Reza, Bu. OB lantai dua belas."

Dira mengangguk pelan. Tatapannya sekilas — tapi Reza tidak tahu bahwa tatapan sekilas itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih panjang dari permukaannya.

Setelah hari itu, Dira mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya ia lewatkan.

Bagaimana Reza selalu tiba di lantai dua belas sebelum jam tujuh pagi, jauh sebelum karyawan lain datang. Bagaimana ia memperbaiki sendiri engsel pintu gudang yang macet tanpa diminta siapa pun. Bagaimana ia hafal nama semua orang di lantai itu beserta minuman favorit masing-masing — dan kadang-kadang menaruh kopi yang tepat di meja seseorang tanpa diminta, tepat di saat orang itu paling membutuhkannya.

Satu siang, Dira menemukan laporannya yang tertinggal di ruang rapat — laporan penting yang ia butuhkan untuk meeting jam dua. Ia sudah panik setengah mati ketika Reza muncul di pintu kantornya.

"Bu Dira. Ini ketinggalan di ruang rapat tiga." Ia menyerahkan map biru itu. "Saya lihat nama Bu Dira di sampulnya."

Dira menatap map itu. Menatap Reza. "Kamu... membacanya?"

"Tidak, Bu. Saya hanya lihat namanya dari luar." Reza sudah membalik badan. "Maaf mengganggu—"

"Reza."

Ia berhenti.

"Terima kasih," kata Dira. Bukan terima kasih basa-basi. Terima kasih yang benar-benar terasa dari caranya mengucapkannya.

Reza mengangguk, lalu pergi. Dan Dira duduk di kursinya dengan satu pertanyaan yang tidak bisa ia singkirkan: siapa sebenarnya anak itu?

Yang tidak nyaman adalah Hendra.

Hendra Prasetyo, Manajer Operasional, tiga puluh dua tahun, tampan dengan cara yang ia sendiri sangat sadari. Ia sudah menyukai Dira sejak hari pertama perempuan itu dilantik sebagai kepala divisi — dan ia tidak menyembunyikannya dengan terlalu baik.

Kopi di mejanya setiap pagi — dari Hendra. Bunga di hari ulang tahunnya — dari Hendra. Undangan makan siang yang selalu ada alasan profesionalnya tapi semua orang tahu bukan itu intinya — dari Hendra.

Dan Dira, dengan sopan yang sangat konsisten, selalu punya alasan untuk menolak.

Hendra tidak menyerah. Pria seperti Hendra tidak terbiasa dengan kata tidak.

Tapi yang membuat darahnya mendidih bukan penolakan Dira — itu masih bisa ia terima sebagai tantangan. Yang tidak bisa ia terima adalah cara Dira berbicara kepada Reza.

Berbeda.

Dengan Hendra — dan semua manajer lain — Dira profesional, efisien, terjaga jaraknya. Tapi dengan OB itu, ada sesuatu yang berbeda. Lebih santai. Lebih manusiawi. Lebih... hangat.

Suatu siang, Hendra melihat Dira berdiri di pantry berbicara dengan Reza yang sedang memperbaiki dispenser air — bukan percakapan tentang pekerjaan, tapi percakapan yang mengalir dengan tawa kecil di ujungnya yang membuat Hendra berdiri di lorong lebih lama dari yang ia akui kepada dirinya sendiri.

Ia masuk ke pantry dengan langkah yang terlalu santai.

"Dira." Ia sengaja tidak menyebut jabatan. "Meeting jam tiga, jangan lupa."

"Aku tahu, Hendra. Terima kasih." Dira kembali ke percakapannya dengan Reza.

Hendra berdiri sebentar — menunggu diajak bicara lebih, menunggu perhatian yang tidak datang — lalu pergi dengan rahang yang sedikit lebih tegang dari biasanya.

Perseteruan itu mulai terbuka di suatu hari Jumat.

Hendra berjalan ke arah Reza yang sedang mendorong trolley di koridor dan menghentikannya dengan cara yang tidak bisa disebut sopan.

"Hei." Ia berdiri menghalangi jalan. "Kamu OB di sini, kan?"

"Iya, Pak."

"Tugas kamu apa?"

Reza tidak berkedip. "Kebersihan dan fasilitas, Pak."

"Berarti bukan tugas kamu ngurusin hal-hal yang di luar itu." Hendra menatapnya dari atas ke bawah. "Kamu terlalu sering terlihat di sekitar ruangan Bu Dira. Itu tidak profesional."

"Saya mengerjakan tugas saya, Pak. Kalau ada yang perlu saya perbaiki di area itu, saya perbaiki."

"Saya bilang jaga jarak."

"Hendra."

Suara itu datang dari ujung koridor. Dira berdiri di sana dengan map di tangan dan ekspresi yang sangat tenang — terlalu tenang, jenis tenang yang lebih berbahaya dari marah.

"Ada masalah?" tanyanya.

"Tidak ada." Hendra tersenyum. "Hanya mengingatkan SOP."

"SOP yang mana?" Dira berjalan mendekat. "Karena setahuku tidak ada SOP yang melarang karyawan berbicara satu sama lain di koridor." Ia menatap Hendra dengan langsung. "Dan kalau ada masalah soal performa atau perilaku karyawan, jalurnya lewat HRD, bukan lewat koridor."

Hendra diam.

"Reza," kata Dira tanpa mengalihkan tatapannya dari Hendra, "lanjutkan pekerjaanmu."

"Baik, Bu." Reza mendorong trolleynya pergi — dan dalam hati ia tidak bisa memutuskan apakah ia merasa lega atau justru semakin tidak nyaman dengan cara Dira membelanya di depan semua orang.

Malam itu, Reza duduk sendirian di pantry yang sudah kosong, mengisi formulir lembur sambil memikirkan satu hal yang sudah lama ia hindari.

Bu Dira memperhatikannya. Itu fakta yang tidak bisa ia sangkal lagi.

Dan ia — di suatu sudut yang tidak mau ia akui terlalu keras — memperhatikan Bu Dira juga. Sudah lama. Bukan karena ia tidak tahu tempat, bukan karena ia tidak mengerti jarak antara seorang OB dan kepala divisi. Justru karena ia sangat mengerti jarak itu, ia tidak pernah mengizinkan dirinya pergi lebih jauh dari memperhatikan.

Pintu pantry terbuka.

Dira masuk — masih dengan pakaian kerjanya, tas di bahu, jelas baru mau pulang. Ia terkejut melihat Reza. "Kamu masih di sini?"

"Lembur sebentar, Bu."

Dira menatap formulirnya, lalu mengambil gelas dan menuangkan air. Ia tidak langsung pergi. Berdiri di sisi counter, minum air putihnya, menatap ke luar jendela yang memantulkan lampu-lampu kota di malam hari.

"Maaf soal tadi," katanya akhirnya. "Hendra harusnya tidak bicara seperti itu ke kamu."

"Tidak apa-apa, Bu."

"Tidak apa-apa itu bukan jawaban." Dira menatapnya. "Kamu tidak marah?"

Reza meletakkan penanya. "Marah itu mewah, Bu. Saya tidak punya jabatan untuk marah."

Dira terdiam. Kalimat itu mendarat di suatu tempat yang cukup dalam.

"Reza," katanya pelan. "Boleh aku tanya sesuatu yang mungkin tidak pada tempatnya?"

"Silakan, Bu."

"Kamu punya latar belakang apa sebelum di sini?"

Reza sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Kuliah tidak selesai, Bu. Teknik Informatika semester enam. Harus berhenti karena orang tua sakit. Ini pekerjaan yang ada waktu itu."

Dira mengangguk pelan. Menyimpan informasi itu di suatu tempat. "Kamu pernah mikir untuk lanjut?"

"Kadang-kadang." Reza tersenyum kecil. "Tapi kadang-kadang itu mewah juga."

Dua minggu setelah percakapan itu, Dira melakukan sesuatu yang membuat seluruh lantai dua belas membicarakannya diam-diam.

Ia mengajukan usulan ke HRD untuk membuka jalur rekrutmen internal — kesempatan bagi karyawan non-staf, termasuk OB dan satpam dan cleaning service, untuk mengikuti tes kompetensi dan mengisi posisi junior yang kosong, dengan syarat rekomendasi atasan langsung dan hasil kerja dua tahun terakhir.

Tidak ada yang bertanya langsung kepadanya mengapa. Tapi semua orang menebak.

Hendra mengetahuinya dari sekretarisnya dan ia menggerutu ke mana-mana bahwa itu preseden yang tidak profesional. Tidak ada yang menanggapi dengan serius.

Reza mengetahuinya dari pengumuman internal yang ditempel di papan informasi dekat ruang ganti karyawan. Ia membaca pengumuman itu tiga kali. Lalu pergi ke toilet dan berdiri di depan cermin selama dua menit.

Ia tahu ini karena siapa.

Dan justru itu yang membuatnya tidak bisa langsung merasa senang.

Ia mengetuk pintu kantor Dira sore itu.

"Masuk."

Reza masuk dan menutup pintu. "Bu Dira punya waktu sebentar?"

Dira meletakkan penanya. "Ada apa?"

"Soal pengumuman rekrutmen internal." Reza berdiri tegak. "Saya mau minta Bu Dira jujur — apa itu karena saya?"

Dira tidak langsung menjawab. Tidak membantah juga.

"Sebagian," katanya akhirnya.

"Saya tidak mau perlakuan istimewa, Bu."

"Ini bukan perlakuan istimewa." Dira bersandar ke kursinya. "Ini sistem yang harusnya sudah ada dari dulu. Kamu hanya membuat saya menyadarinya lebih cepat."

"Tapi kalau saya ikut dan saya lolos, orang-orang akan bilang itu karena—"

"Karena apa?" Dira memotong, bukan dengan kasar tapi dengan tegas. "Karena kamu pintar? Karena kamu cekatan? Karena kamu sudah dua tahun kerja keras di sini tanpa pernah mengeluh satu kali pun?" Ia menatap Reza langsung. "Biarkan mereka bilang apa yang mereka mau. Yang penting kamu tahu kamu ikut karena kamu layak. Dan aku tahu itu."

Reza diam.

"Ikut tesnya, Reza," kata Dira lebih pelan. "Sisanya bukan urusanku lagi — itu urusanmu dengan kemampuanmu sendiri."

Reza ikut tes.

Hasilnya keluar dua minggu kemudian: ia mendapatkan skor tertinggi di antara semua peserta internal — cukup untuk mengisi posisi junior IT support yang kebetulan kosong di lantai dua belas.

Pengumuman itu membuat Hendra diam selama dua hari penuh. Diam yang tegang, diam yang berbicara lebih keras dari kata-kata.

Pada hari ketiga, ia datang ke kantor Dira.

"Kamu memang sengaja merancang ini untuknya."

Dira meletakkan penanya. "Duduk, Hendra."

"Aku tidak perlu duduk—"

"Duduk."

Nada itu tidak tinggi. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Hendra menarik kursi dan duduk meski tidak ingin.

"Aku akan bicara sekali dan tidak akan aku ulangi," kata Dira. "Keputusan rekrutmen internal itu melalui HRD, komite, dan direktur. Bukan keputusanku sendiri. Reza lulus karena skornya, bukan karena aku." Ia menatap Hendra. "Dan soal kamu dan aku — Hendra, sudah cukup. Aku sudah menolak dengan cara yang sopan berkali-kali. Aku minta kamu menghargai itu."

Hendra terdiam lama. Rahangnya mengeras. Tapi ada sesuatu di matanya yang akhirnya — untuk pertama kalinya — terlihat seperti seseorang yang menyerah bukan karena kalah, tapi karena akhirnya mengerti.

Ia berdiri. "Baik." Satu kata. Lalu ia pergi.

Hari pertama Reza masuk dengan seragam karyawan baru — kemeja putih dan kartu identitas yang berbeda — Bagian terharu adalah wajah Bu Lastri dari kantin yang memeluknya dan bilang kamu memang beda dari awal. Reza tertawa dan matanya sedikit panas.

Sore itu, Dira keluar lift di lantai dua belas dan melihat Reza di lorong — berbeda dari biasanya, tapi dengan cara yang terasa sangat tepat.

"Hari pertama," kata Dira. "Bagaimana?"

"Aneh," jawab Reza jujur. "Tapi baik."

Dira tersenyum — senyum yang berbeda dari senyum profesionalnya yang biasa. "Aneh tapi baik itu permulaan yang bagus."

Mereka berjalan beriringan menuju arah yang berbeda — Dira ke kantornya, Reza ke meja barunya. Tapi sebelum belok ke lorong yang berbeda, Reza berhenti.

"Bu Dira."

Dira menoleh.

"Terima kasih." Ia mengucapkannya dengan cara yang sama seperti cara Dira berterima kasih kepadanya dulu — bukan basa-basi. Yang sungguh-sungguh. Yang beratnya terasa.

Dira mengangguk pelan. "Jangan bikin aku menyesal sudah percaya."

"Tidak akan."

Ia membalik badan dan berjalan. Dan Dira berdiri di lorong itu sebentar, menatap punggungnya yang menghilang di tikungan, dengan senyum kecil yang ia tidak repot sembunyikan karena tidak ada siapa pun di sana yang melihatnya.

Belum saatnya untuk lebih dari ini.

Tapi permulaan yang baik — seperti yang baru saja ia katakan — adalah cukup untuk sekarang.

Tiga bulan kemudian, di atap gedung Navara Corp pada sore yang langitnya oranye keemasan, dua orang berdiri berdampingan dengan kopi di tangan — bukan karena rapat, bukan karena urusan kantor.

Hanya karena ingin.

"Kamu tahu," kata Reza, "pertama kali ketemu Bu Dira, saya pikir saya akan selalu cuma OB di matanya."

"Dan sekarang?" tanya Dira.

Reza menatap langit. "Sekarang saya tidak tahu saya apa di matanya."

Dira menyesap kopinya. Menatap kota yang mulai menyalakan lampunya satu per satu di bawah mereka.

"Seseorang yang membuat saya percaya bahwa hal yang harusnya terjadi, akan terjadi kalau kita tidak menghalanginya." Ia meliriknya. "Itu cukup dulu?"

Reza tersenyum. "Lebih dari cukup."

Langit terus menguning di atas gedung itu, di atas kota yang tidak pernah berhenti bergerak, di atas dua orang yang baru saja menemukan bahwa jarak antara mereka tidak pernah sebesar yang mereka kira — hanya butuh keberanian untuk berdiri cukup dekat agar bisa melihatnya dengan jelas.


— Tamat —

0/Post a Comment/Comments

Iklan Banner ⚡ Iklan
Iklan Banner ⚡ Iklan