Sisa Setelah Hujan: Arinda tahu ia seharusnya tidak membuka pintu itu.


Ia seharusnya menutup pintu. Tapi Arinda membuka pintu itu lebih lebar — dan itulah awal dari malam yang tidak seharusnya terjadi.

Sudah tiga tahun. Tiga tahun yang cukup untuk belajar bagaimana menghirup udara tanpa merasa tulang rusuknya mau patah setiap kali nama itu lewat di pikirannya. Tiga tahun yang cukup untuk meyakinkan dirinya bahwa ia sudah sembuh, bahwa luka itu sudah menjadi parut, bahwa parut itu tidak lagi sakit kalau tidak sengaja disentuh.

Tapi kemudian Bagas berdiri di depan pintu apartemennya pada pukul sebelas malam di tengah hujan deras, dan semua tiga tahun itu runtuh seperti rumah kartu di bawah satu embusan napas.

"Aku tahu ini salah," kata Bagas. Rambutnya basah kuyup. Kemejanya menempel di kulitnya. Ia terlihat seperti versi dirinya yang paling lelah yang pernah Arinda lihat, dan ia sudah melihat Bagas dalam banyak versi — bahagia, marah, hancur, dan segala gradasi di antaranya. "Tapi tidak ada tempat lain yang ingin aku tuju malam ini."

Arinda seharusnya menutup pintu. Arinda seharusnya bilang bahwa ia tidak punya ruang lagi, bahwa ia sudah mengisi kembali semua celah yang pernah ia tinggalkan, bahwa ia sekarang baik-baik saja dan tidak butuh diingatkan betapa tidak baik-baik saja-nya ia dulu ketika bersama pria yang berdiri di depannya sekarang.

Ia membuka pintu lebih lebar.

Bagas sudah duduk di sofa dengan handuk di kepalanya dan secangkir teh panas di tangannya ketika Arinda akhirnya berani bertanya.

"Kamu dan Mira?"

Ia melihat Bagas menghela napas panjang, cara yang selalu ia lakukan ketika mau menjawab sesuatu yang tidak ingin ia jawab. "Selesai. Tiga minggu lalu."

Arinda menahan dirinya dari mengatakan apa pun yang terlintas pertama di benaknya. Sebagai gantinya, ia memeluk lututnya sendiri di kursi di hadapan Bagas dan bertanya, "Kamu baik-baik saja?"

"Tidak." Bagas menatapnya. Cara ia menatap Arinda selalu terlalu langsung, terlalu jujur, seperti ia tidak pernah belajar bagaimana menyembunyikan apa yang ia rasakan di balik tatapannya. "Kamu?"

"Aku sudah baik-baik saja."

"Sudah."

"Ya."

Kata itu menggantung di antara mereka. Sudah — kata yang mengandung seluruh sejarah yang tidak perlu mereka eja lagi. Sudah — yang berarti pernah tidak, yang berarti ada masa ketika segalanya terasa seperti tenggelam di air yang tidak punya dasar.

"Aku tidak datang ke sini untuk memulai lagi," kata Bagas akhirnya.

"Aku tahu."

"Aku hanya—" Ia berhenti. Meletakkan cangkir tehnya ke meja dengan hati-hati, seperti kalau ia bergerak terlalu cepat sesuatu akan pecah. "Aku tidak ingat bagaimana caranya sendirian, Rin. Dua belas tahun. Dua belas tahun aku selalu punya seseorang, dan sekarang—"

"Bagas."

"Maaf."

"Jangan minta maaf." Arinda menatap langit-langit. Di luar, hujan masih deras. "Aku mengerti."

Dan itulah masalahnya. Ia mengerti. Selalu mengerti Bagas lebih dari yang seharusnya, lebih dari yang baik untuknya sendiri. Mengerti kenapa Bagas menikahi Mira dua tahun setelah meninggalkannya — karena Mira aman, karena Mira tidak membuat Bagas merasa seperti ia berdiri di tepi jurang setiap saat. Mengerti kenapa sekarang Bagas ada di sini dan bukan di tempat lain — karena di antara semua orang yang pernah ia kenal, Arinda adalah satu-satunya yang tidak pernah memintanya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Masalahnya adalah mengerti dan memaafkan adalah dua hal yang berbeda, dan Arinda sudah lama berhenti mencampuradukkan keduanya.

"Kamu bisa tidur di sini malam ini," katanya. "Sofa nyaman. Ada selimut di lemari."

Bagas menatapnya dengan ekspresi yang sulit Arinda baca — lega dan sekaligus menyesal dalam porsi yang sama. "Terima kasih."

"Ini bukan pengampunan," kata Arinda pelan. "Aku hanya tidak mau kamu mengemudi malam ini dalam kondisi seperti ini."

"Aku tahu." Bagas menunduk. "Aku tidak meminta pengampunan."

"Bagus."

Arinda tidak bisa tidur.

Ia berbaring di ranjangnya mendengarkan hujan dan suara napas seseorang yang tidur di ruang sebelah, dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan — bukan kerinduan, bukan cinta, tapi semacam gravitasi. Daya tarik lama yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya berhasil ia latih untuk tidak ia ikuti.

Ia bangkit pukul satu malam karena tidak ada gunanya pura-pura bisa tidur. Berjalan ke dapur untuk minum air. Dan di sana Bagas sudah duduk di kursi bar dengan matanya terbuka, menatap ke arah jendela yang basah oleh hujan.

"Kamu juga tidak bisa tidur," kata Arinda. Bukan pertanyaan.

"Sudah lama tidak bisa tidur," jawab Bagas.

Arinda menuangkan dua gelas air, meletakkan satu di depan Bagas, lalu berdiri di sisi berlawanan meja dapur. Jarak yang cukup. Jarak yang aman.

"Apa yang kamu mau, Bagas?" tanyanya. "Sungguh-sungguh. Bukan malam ini. Bukan secara umum. Apa yang kamu mau dari hidupmu?"

Bagas memutar gelas di tangannya. "Dulu aku pikir aku tahu."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku tidak yakin apakah yang aku inginkan adalah sesuatu yang bisa didapatkan atau sesuatu yang sudah aku sia-siakan."

Arinda menatapnya. "Jangan."

"Aku tidak mengatakan apa-apa."

"Kamu hampir mengatakan sesuatu yang akan membuat malam ini jauh lebih rumit dari yang seharusnya."

Bagas diam sebentar. Lalu, dengan suara yang lebih rendah: "Kamu selalu tahu."

"Ya." Arinda meletakkan gelasnya. "Itu masalahnya. Aku selalu tahu kamu, dan kamu selalu tahu itu, dan itu tidak pernah cukup untuk membuat kamu memilih aku waktu itu."

Kata-kata itu keluar lebih tenang dari yang ia kira. Tiga tahun lalu, kalimat yang sama akan keluar dengan getaran di suaranya, mungkin dengan air mata yang ia coba tahan. Sekarang hanya fakta — batu dingin yang sudah lama ia pegang sampai ia tidak lagi merasakan beratnya.

Bagas tidak membantah. Itu yang membuat Arinda, diam-diam, menghargainya — Bagas tidak pernah berbohong kepadanya, bahkan ketika kebenaran adalah hal yang paling menyakitkan.

"Aku takut," kata Bagas akhirnya. "Waktu itu. Aku takut dengan apa yang aku rasakan kalau bersamamu. Terasa terlalu besar. Terlalu tidak terkendali."

"Aku tahu."

"Dan aku memilih yang terasa aman." Ia menatap mejanya. "Dan aman ternyata juga tidak bertahan."

Di luar, hujan mulai mereda. Arinda bisa mendengar tetes-tetes terakhirnya di kaca jendela, tidak lagi deras, hanya sisa-sisa yang belum tahu harus berhenti.

"Kamu harus belajar sendirian, Bagas," katanya pelan. "Bukan karena aku tidak peduli. Tapi karena kamu tidak akan pernah tahu apa yang kamu mau selama kamu selalu ada seseorang yang bisa kamu datangi tengah malam."

"Termasuk kamu."

"Termasuk aku."

Bagas menatapnya lama. Terlalu lama. Dengan cara yang dulu pernah membuat Arinda merasa seperti satu-satunya orang di dunia yang benar-benar dilihat.

"Aku menyesal," katanya. "Bukan karena berakhir di sini malam ini. Tapi karena semua yang terjadi sebelumnya. Karena memilih jalan yang lebih mudah padahal tahu ada yang lebih jujur."

Arinda mengangguk pelan. Menerima kata itu bukan sebagai penawar, tapi sebagai apa adanya — pengakuan dari seseorang yang sudah terlambat, yang tahu ia terlambat, dan tidak meminta lebih dari sekadar didengar.

"Tidur, Bagas," katanya. "Besok pagi kamu pulang dan mulai memikirkan hidupmu sendiri."

Pagi datang dengan langit yang bersih setelah hujan, udara yang lebih dingin dari biasanya, dan bau tanah basah yang masuk dari celah jendela yang Arinda buka sedikit.

Bagas pergi sebelum pukul tujuh. Ia meninggalkan cangkir tehnya sudah dicuci dan dikeringkan di rak, selimut yang sudah dilipat rapi di sofa, dan secarik kertas di meja dapur yang hanya berisi dua kata:

Terima kasih.

Arinda duduk di kursi yang sama tempat ia duduk semalam, memeluk cangkir kopinya, dan merasakan sesuatu yang butuh beberapa saat ia identifikasi.

Bukan kesedihan. Bukan penyesalan. Bukan keinginan bahwa semalam berakhir berbeda.

Hanya semacam ketenangan yang berat — berat bukan karena menyakitkan, tapi karena penuh. Penuh dengan sesuatu yang akhirnya ia mengerti setelah tiga tahun: bahwa mencintai seseorang dan memilih dirimu sendiri bisa terjadi pada waktu yang bersamaan. Bahwa menutup pintu bukan berarti tidak peduli. Bahwa ada kalanya cara paling jujur untuk mencintai seseorang adalah dengan tidak memberinya apa yang ia datangi minta.

Di luar, matahari mulai naik. Genangan air di jalanan memantulkan cahayanya — perak dan bergerak, seperti sesuatu yang sedang dalam perjalanan menuju sesuatu yang lain.

Arinda menyelesaikan kopinya, meletakkan cangkirnya, dan mulai bersiap untuk hari yang baru.


Catatan: kisah di atas adalah fiksi.

0/Post a Comment/Comments

Iklan Banner ⚡ Iklan
Iklan Banner ⚡ Iklan