Rumah di Ujung Kampung adalah cerita horor tentang Tirta yang kembali ke rumah warisan neneknya. Setiap malam ia mendengar suara aneh dari kebun belakang hingga menemukan rahasia mengerikan yang berkaitan dengan Yu Sumi.
Sudah tiga hari Tirta tinggal di rumah peninggalan neneknya, dan selama tiga hari itu pula ia belum sekali pun tidur nyenyak.
Rumah itu berdiri sendirian di ujung Kampung Sawojajar, dipisahkan dari rumah-rumah lain oleh sepetak kebun yang sudah lama tak terurus. Dindingnya dari kayu jati tua yang menghitam, atapnya genteng tanah yang sebagian sudah berlumut. Neneknya, Mbah Inem, meninggal dua minggu lalu dalam usia sembilan puluh dua tahun, dan sebagai cucu satu-satunya yang masih lajang dan baru kehilangan pekerjaan di kota, Tirta merasa wajar jika ia yang mengurus rumah itu sebelum dijual.
Begitulah rencananya. Bersihkan, urus surat-surat, jual, lalu kembali ke kota. Sederhana.
Tapi pada malam pertama, ia mendengar suara orang menyapu di halaman belakang—padahal pukul dua dini hari, dan tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya.
Ia mengabaikannya. Mungkin angin. Mungkin ranting bambu yang bergesekan.
Malam kedua, suara itu datang lagi, lebih jelas: gesekan sapu lidi di tanah, teratur, seperti seseorang yang sedang bekerja dengan tenang. Tirta bangkit, menyalakan lampu senter ponselnya, dan berjalan ke jendela dapur yang menghadap halaman belakang. Tidak ada apa-apa. Hanya kebun pisang yang bergoyang pelan, dan bayangan pohon kamboja tua di sudut kebun.
Pohon kamboja itu sendiri sudah membuatnya merinding sejak hari pertama. Entah mengapa, dari semua tumbuhan di kebun yang rimbun itu, justru kamboja itu yang ditata rapi—tanahnya bersih, tak ada rumput liar di sekitarnya, seolah seseorang masih rutin merawatnya meski Mbah Inem sudah dua minggu tak ada.
Hari ketiga, Tirta memutuskan bertanya pada Bu Sarmi, tetangga terdekat yang rumahnya berjarak sekitar dua ratus meter.
"Sudah berapa lama Bu Sarmi tinggal di sini?" tanya Tirta sambil menyesap teh yang disuguhkan.
"Dari kecil, Mas. Sejak rumah Mbah Inem masih baru dibangun." Bu Sarmi tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. "Kenapa? Ada apa di rumah itu?"
"Ada yang menyapu halaman tiap malam. Tapi nggak ada orangnya."
Senyum Bu Sarmi luruh seketika. Ia meletakkan cangkirnya pelan-pelan, seperti takut suaranya sendiri akan memecahkan sesuatu yang rapuh.
"Itu Yu Sumi," katanya akhirnya, dengan suara direndahkan, meski tidak ada siapa pun lagi di rumah itu selain mereka berdua. "Dulu pembantu Mbah Inem. Sudah meninggal lama, Mas. Tahun delapan puluhan."
Tirta meletakkan cangkirnya juga. "Meninggal di mana?"
"Di kebun belakang rumah Mbah Inem. Katanya jatuh dari pohon kamboja waktu memetik bunga buat sesajen. Tapi..." Bu Sarmi berhenti, menggosok-gosok lengannya sendiri seolah kedinginan padahal siang itu terik. "Tapi orang-orang kampung dulu bilang lain. Katanya Yu Sumi itu hamil di luar nikah, dan Mbah Inem yang... ya, Mbah Inem yang menanganinya. Tapi nggak ada yang bisa membuktikan. Cuma omongan kampung. Mbah Inem orangnya baik, Mas, jangan dengarkan yang aneh-aneh."
Malam itu, Tirta tidak bisa tidur sama sekali. Ia duduk di ruang tengah, dikepung oleh foto-foto lama yang berjejer di dinding—neneknya muda, neneknya menikah, neneknya menggendong anak-anak yang kini sudah jadi paman dan bibinya yang tersebar di berbagai kota. Tidak ada satu pun foto perempuan lain selain keluarga.
Pukul satu lewat, suara menyapu itu kembali. Kali ini Tirta tidak hanya mendengarkan. Ia berdiri, mengambil senter, dan melangkah keluar lewat pintu dapur menuju kebun belakang.
Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, seperti memasuki ruangan berpendingin udara. Suara sapu lidi itu berhenti tepat saat ia menginjak rumput basah di halaman. Sunyi total. Bahkan jangkrik yang biasanya ramai bersahutan ikut diam.
Di bawah pohon kamboja, ia melihat sesuatu. Bukan sosok, bukan bayangan jelas—hanya sebuah ketidakwajaran di udara, seperti riak air yang membuat pandangan di baliknya sedikit melengkung. Tirta mengarahkan senternya ke sana, dan untuk sepersekian detik, ia melihat siluet seseorang membungkuk, seolah memungut sesuatu dari tanah.
Lalu hilang.
Ia mestinya lari. Tapi kakinya malah melangkah mendekat ke pohon itu, seperti ditarik oleh sesuatu yang lebih kuat dari rasa takutnya sendiri. Tanah di bawah pohon kamboja terasa lebih lunak dari tanah sekitarnya, seperti baru saja digali dan ditutup kembali, meski tak ada bekas cangkulan yang terlihat di permukaan.
Esok paginya, Tirta menggali tanah itu dengan sekop yang ia temukan di gudang. Ia tahu ini gila. Ia tahu seharusnya ia berhenti, menelepon paman atau bibinya, bertanya baik-baik daripada menggali sendiri di pekarangan rumah mendiang neneknya seperti orang kerasukan. Tapi sesuatu di dalam dirinya—rasa penasaran, atau mungkin sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap yang menetap di tanah itu—mendorongnya terus.
Sekitar setengah meter, sekopnya membentur sesuatu yang keras. Bukan batu.
Ia berlutut, menyingkirkan tanah dengan tangan. Sebuah kotak kayu kecil, sudah lapuk di beberapa sisi, muncul dari dalam tanah. Tirta membukanya dengan susah payah, engsel karatnya patah saat ia memaksa.
Di dalamnya: sehelai kain gendongan bayi yang sudah menguning dan rapuh, sebuah kalung manik-manik sederhana, dan secarik surat yang tintanya hampir pudar seluruhnya. Tirta hanya bisa membaca sebagian:
...maafkan saya, Sumi. Bukan maksud saya begini. Anak itu...
Selebihnya tak terbaca, dimakan lembap dan waktu.
Tirta duduk di tanah, kotak kayu itu di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba, ia tidak merasa takut. Ia merasa sedih—sedih yang aneh, sedih yang bukan miliknya sendiri, seperti dipinjamkan dari seseorang yang sudah lama tak bisa lagi merasakannya sendiri.
Malam itu, ia menaruh kembali kotak kayu itu ke tempatnya, menutupnya dengan tanah, lalu menanam bunga kamboja baru di atasnya—bukan untuk menyembunyikan, tapi semacam permintaan maaf yang ia sendiri tak tahu kepada siapa harus ditujukan.
Ia tidak mendengar suara sapu lidi lagi malam itu.
Atau malam-malam setelahnya.
Tirta akhirnya menjual rumah itu seperti rencana semula, sebulan kemudian. Sebelum kunci diserahkan ke pembeli baru, ia berdiri sebentar di kebun belakang, memandangi pohon kamboja yang kini berbunga lebat, putih bersih, menebarkan aroma manis yang aneh—aroma yang menurutnya terlalu manis untuk sebuah pohon yang berdiri di atas sesuatu yang begitu pahit.
Ia tidak pernah cerita ke siapa pun tentang kotak kayu itu. Bukan karena takut dianggap gila, tapi karena ia merasa itu bukan miliknya untuk diceritakan. Itu milik Yu Sumi, dan mungkin, dengan caranya sendiri yang sunyi dan menyapu-nyapu di tengah malam selama puluhan tahun, perempuan itu hanya ingin seseorang akhirnya tahu bahwa ia pernah ada—dan bahwa ia tak pernah benar-benar sendirian terkubur di sana.
Pembeli baru rumah itu, sepasang suami istri muda dari kota, tidak pernah melaporkan keanehan apa pun. Mereka menebang sebagian kebun untuk membuat kolam ikan, tapi membiarkan satu pohon kamboja tetap berdiri di sudut halaman.
Mereka bilang, entah kenapa, rasanya sayang menebangnya. Pohon itu terlalu indah untuk ditebang.
Tidak ada yang pernah memberi tahu mereka apa yang tertanam di bawahnya.

Posting Komentar