Angka yang Tidak Pernah Salah
Raka sudah delapan tahun bekerja sebagai analis data di Badan Statistik dan Riset Nasional, dan selama delapan tahun itu, ia tidak pernah sekali pun mempertanyakan angka-angka yang melewati mejanya.
Sampai suatu sore di bulan November, ketika ia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi secara statistik.
Ia sedang mengaudit data inflasi regional untuk laporan kuartalan, membandingkan angka mentah dari tiga puluh empat provinsi dengan angka yang akhirnya dipublikasikan. Semestinya identik—proses validasi hanya menyaring duplikasi dan kesalahan input, bukan mengubah substansi. Tapi di tujuh provinsi, ada selisih kecil. Sangat kecil, hanya nol koma sekian persen, cukup kecil untuk lolos dari pengecekan rutin, tapi cukup konsisten untuk membuat Raka berhenti mengetik dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Selisihnya selalu ke arah yang sama. Selalu menurunkan angka inflasi. Selalu di provinsi yang sama, bulan demi bulan, selama—ia mengecek arsip—setidaknya tiga tahun terakhir.
Kebetulan bisa terjadi sekali. Bahkan dua kali. Tapi pola yang konsisten selama tiga puluh enam bulan berturut-turut, di provinsi yang sama, dengan arah yang sama? Itu bukan kebetulan. Itu rumus.
Raka membuka modul audit lebih dalam, menelusuri jejak siapa yang mengakses data sebelum dipublikasikan. Namanya tertera jelas: akun "sysadmin_pusat", sebuah akun layanan yang seharusnya hanya digunakan untuk pemeliharaan sistem, bukan untuk menyentuh data substantif. Akun itu mengakses data tepat sebelum jam tayang publikasi, setiap kuartal, selama tiga tahun.
Ia menyalin temuan itu ke flashdisk pribadinya—bukan karena ia sudah punya rencana, tapi karena instingnya bilang bahwa sesuatu yang ia temukan ini tidak akan bertahan lama di server kantor begitu seseorang menyadari ia sedang melihatnya.
Malam itu, di apartemennya, Raka menatap layar laptop sambil memutar ulang kemungkinan di kepalanya. Mungkin ada penjelasan teknis. Mungkin metodologi penyesuaian musiman yang ia tidak tahu. Mungkin atasan yang lupa mendokumentasikan suatu kebijakan internal.
Tapi semakin ia mencoba mencari alasan jinak, semakin ia ingat detail-detail kecil yang selama ini ia abaikan. Bagaimana Pak Hadi, atasannya, selalu sedikit gelisah menjelang rilis data inflasi kuartalan. Bagaimana dua tahun lalu, seorang analis junior bernama Wulan tiba-tiba dipindahkan ke kantor cabang di Kalimantan tanpa alasan yang jelas, hanya beberapa minggu setelah ia mengajukan pertanyaan serupa di rapat divisi—pertanyaan yang waktu itu dianggap Raka sebagai sekadar kelancangan anak baru.
Keesokan harinya, Raka mencoba bertindak biasa. Ia menyapa rekan-rekannya seperti biasa, mengerjakan tugas hariannya seperti biasa. Tapi diam-diam, ia mulai mengumpulkan lebih banyak bukti—mengunduh log akses dari periode yang lebih lama, membandingkan data provinsi lain, mencoba mencari apakah ada pola yang sama di sektor selain inflasi: data pengangguran, angka kemiskinan, statistik kriminalitas.
Yang ia temukan membuat perutnya terasa dingin. Pola yang sama muncul di hampir semua kategori data sensitif, meski dengan intensitas berbeda-beda. Selalu kecil. Selalu konsisten. Selalu mengarah ke versi realitas yang sedikit lebih nyaman daripada yang sebenarnya.
Ia tidak tahu siapa yang memerintahkan ini. Mungkin tidak ada satu orang pun yang tahu keseluruhannya—mungkin sistemnya dibangun sedemikian rupa sehingga setiap orang hanya melihat sepotong kecil, cukup kecil untuk tidak menyadari bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Itulah yang membuatnya begitu sulit dilacak sekaligus begitu efektif. Tidak ada satu tanda tangan, tidak ada satu email yang memerintahkan secara eksplisit. Hanya pola.
Raka mempertimbangkan untuk membawa temuan ini ke media. Ia punya kenalan, seorang teman kuliah yang sekarang menjadi jurnalis investigasi di sebuah media daring yang cukup dipercaya. Tapi setiap kali ia mengetik pesan untuk mengirimkannya, jarinya berhenti di atas tombol kirim.
Bagaimana jika ia salah membaca pola itu? Bagaimana jika ada penjelasan yang ia tidak tahu, dan ia justru menjadi orang yang menyebarkan teori tanpa dasar, merusak kredibilitas institusi yang sebenarnya bekerja dengan baik? Tapi di sisi lain, bagaimana jika ia benar, dan ia memilih diam—membiarkan publik terus mempercayai angka-angka yang ternyata sudah dipoles sejak awal, memengaruhi kebijakan, anggaran, bahkan keputusan hidup jutaan orang yang tak pernah tahu bahwa fondasi yang mereka percayai sudah retak diam-diam?
Seminggu setelah penemuannya, Raka dipanggil ke ruangan Pak Hadi.
"Saya dengar kamu sedang melakukan audit mendalam di luar tugas rutin," kata Pak Hadi, suaranya tenang, terlalu tenang. "Ada yang bisa dibantu?"
Raka menjaga wajahnya tetap datar. "Cuma rasa ingin tahu, Pak. Latihan internal."
Pak Hadi tersenyum, senyum yang tidak menyentuh matanya, mirip seperti senyum Bu Sarmi waktu menjawab pertanyaan yang tidak ingin ia jawab—meski tentu Pak Hadi tidak pernah Raka temui sebelumnya dalam konteks itu; entah mengapa pikirannya melompat ke perbandingan yang aneh dan tidak relevan itu.
"Latihan yang baik. Tapi hati-hati, ya. Sistem kita ini rumit. Kadang orang yang terlalu dalam menggali, justru kehilangan gambaran besarnya." Pak Hadi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Lagipula, Raka, kita semua di sini bekerja untuk hal yang sama: stabilitas. Kadang stabilitas itu butuh sedikit... kesabaran dalam membaca data. Kamu paham maksud saya?"
Raka mengangguk, meski sebenarnya tidak sepenuhnya paham—atau lebih tepatnya, ia paham terlalu jelas, dan justru itu yang membuatnya takut.
Malam itu, ketika ia pulang, ia mendapati pintu apartemennya tidak terkunci sebagaimana biasanya. Tidak ada barang yang hilang. Tidak ada yang berantakan. Hanya laptopnya, yang ia ingat betul telah dimatikan sebelum berangkat kerja, kini menyala dengan layar kosong, seolah baru saja dipakai dan ditinggalkan begitu saja.
Ia memeriksa riwayat aktivitasnya. Tidak ada yang mencurigakan. Semua terlihat normal. Tapi flashdisk yang biasa ia simpan di laci meja kerjanya—yang berisi salinan data yang ia kumpulkan—sudah tidak ada di tempatnya.
Raka duduk di tepi ranjang, jantungnya berdebar kencang, mencoba memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Mengirim email ke temannya yang jurnalis? Melapor ke atasan yang lebih tinggi, padahal ia tidak tahu sampai level mana ini sudah merembes? Atau diam saja, berpura-pura tidak pernah menemukan apa pun, dan melanjutkan hidup seperti delapan tahun sebelumnya, ketika angka hanyalah angka?
Ia membuka laptopnya lagi, jarinya melayang di atas keyboard, menyusun draf email ke temannya yang jurnalis. Ia menuliskan beberapa kalimat pembuka, menghapusnya, menuliskannya lagi dengan kata-kata berbeda.
Lalu ia berhenti, menatap kursor yang berkedip-kedip di layar kosong.
Di luar, ia mendengar suara mobil berhenti di depan apartemennya—mungkin hanya tetangga yang baru pulang kerja, mungkin sesuatu yang lain. Ia tidak tahu, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun karier yang penuh angka pasti dan kolom yang rapi, Raka menyadari bahwa ia sedang berdiri di tepi sesuatu yang tidak bisa lagi ia ukur, hitung, atau validasi dengan cara yang ia kenal.
Email itu tidak pernah selesai ditulis malam itu.
Tidak ada yang tahu pasti apakah esok paginya Raka mengirimkannya juga, menghapusnya selamanya, atau memilih jalan ketiga yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Catatan: kisah di atas adalah fiksi.

Posting Komentar