Baskom Bocor: Jagoan Kolong Layar

 

Baskom Bocor: Jagoan Kolong layar yang suka menghujat di medsos

Di sebuah kamar kos berukuran tiga kali empat meter, dengan poster Manchester United yang sudah mulai pudar warnanya karena terlalu lama dijemur sinar matahari dari jendela, Bayu duduk membungkuk di depan layar HP-nya. Jam menunjukkan pukul dua siang, tapi kasur belum dirapikan, dan piring bekas mie instan semalam masih teronggok di lantai.

Usianya sudah 41 tahun. Tidak punya pekerjaan tetap—katanya "lagi rintis bisnis online", tapi sudah tiga tahun bisnis itu tak pernah jelas bentuknya. Yang jelas dan rutin hanya satu: nimbrung di kolom live TikTok orang lain, dengan akun bernama Baskom Bocor, foto profil tengkorak bertopi rajut, bio singkat: "Gak ada yg lebih jujur dari gw. Yg gak suka, silahkan blok 🪣"


1. Raja di Kolong Layar

Bayu—atau Baskom Bocor—punya rutinitas. Setiap sore, ia masuk ke live TikTok siapa saja yang sedang ramai, lalu melempar komentar pedas. Bukan kritik membangun, tapi sindiran tajam yang dirancang untuk memancing emosi.

"Halah, kontennya gini doang rame? Standar netizen makin rendah aja," tulisnya di kolom live seorang anak SMA yang sedang belajar dance cover.

Kalau ada yang membalas, Bayu langsung berapi-api. Ia akan menyebut orang itu "NPD", "halu", "krisis identitas"—padahal ia sendiri tak benar-benar paham arti istilah itu, hanya tahu kata-kata itu efektif untuk menjatuhkan orang di kolom komentar.

Ironisnya, dialah yang paling sulit menerima kritik. Sekali ada yang bilang, "Bang, kayaknya komen abang yang aneh deh," Bayu langsung membalas panjang, marah-marah, lalu menutup dengan kalimat andalan:

"Lu yang NPD, gak bisa terima kenyataan. Gw cuma jujur aja kok baper."

Ia punya circle kecil—lima sampai enam akun lain yang sama-sama suka "war" di kolom live. Mereka punya grup WhatsApp bernama "Squad Realita", isinya menyusun strategi: siapa target hari ini, siapa yang mau di-bully bareng, siapa yang akan mereka serang dengan akun cadangan kalau yang utama di-banned.

Mereka menyebut diri mereka "pejuang kejujuran". Padahal yang mereka lakukan setiap hari hanyalah menghujat orang-orang yang tidak mereka kenal, demi sensasi sesaat dan rasa berkuasa yang hanya bisa mereka rasakan di balik layar.


2. Si Bocah yang Tak Terduga

Suatu sore, Bayu masuk ke sebuah live baru. Yang siaran adalah seorang remaja bernama Tama, 17 tahun, sedang live menjelaskan project robotik sederhana untuk lomba sekolah. Penontonnya tidak banyak, mungkin baru tiga puluhan orang.

Bayu, seperti biasa, mengetik komentar asal:

"Robot gini doang dipamerin? SD juga bisa bikin."

Tama membaca komentar itu sambil tersenyum kecil, lalu menjawab dengan tenang di live:

"Hehe, makasih masukannya, Bang Baskom Bocor. Tapi ini robot pakai sensor inframerah custom loh, lumayan buat tingkat sekolah. Btw nama akunnya unik ya, hehe."

Penonton lain ikut tertawa kecil. Bukan tertawa mengejek Tama—justru sebaliknya, mereka mulai memperhatikan nama "Baskom Bocor" dengan rasa penasaran yang aneh.

Bayu, yang biasanya selalu merasa di atas angin, kali ini merasa sedikit terganggu karena responsnya tidak memancing kemarahan seperti biasanya. Ia mengetik lagi, lebih tajam:

"Sok pinter. Paling nanti nyontek tugas orang juga."

Tama, masih dengan nada santai, menjawab:

"Bang, kalau abang punya waktu nyinyirin anak SMA siang-siang gini, berarti abang nganggur ya? Hehe, gapapa, aku doain semoga cepet dapet kerjaan, Bang. Aamiin."

Komentar itu sederhana. Tidak kasar. Tidak menghina balik. Tapi entah kenapa, di mata ratusan orang yang menonton live itu—yang jumlahnya mulai bertambah karena ada yang membagikan momen itu ke grup lain—kalimat itu terasa seperti tamparan telak.


3. Viral yang Tidak Diinginkan

Malam itu juga, seseorang merekam tangkapan layar percakapan tersebut dan mengunggahnya ke platform lain dengan judul:

"Bapak-bapak julid di live anak SMA, ujung-ujungnya diceramahin balik 😭🔥"

Unggahan itu menyebar cepat. Orang-orang mulai membahas akun "Baskom Bocor". Beberapa orang yang pernah jadi korban hujatannya di masa lalu mulai berkomentar, menceritakan pengalaman serupa—dihina di kolom live, dibilang NPD, dibilang halu, padahal mereka hanya sedang berbagi sesuatu yang sederhana dan jujur.

Satu per satu, cerita-cerita itu terkumpul. Seseorang membuat utas panjang berisi tangkapan layar komentar-komentar Bayu selama berbulan-bulan terakhir—lengkap dengan nama asli circle "Squad Realita" yang ikut terbongkar karena salah satu anggotanya pernah pamer screenshot grup itu di status WhatsApp yang lupa di-private.

Bayu yang awalnya menonton fenomena itu dengan santai—bahkan sempat bangga karena namanya "viral"—mulai panik ketika komentar-komentar di unggahan itu makin tajam mengarah padanya secara personal. Orang-orang mulai mengenali wajahnya dari video lama yang pernah ia unggah sendiri. Nama aslinya bocor. Tempat kosnya disebut-sebut. Bahkan ibunya di kampung sempat ditelepon tetangga yang bertanya, "Itu bener anak ibu yang di video itu?"


4. Yang Tersisa Hanya Sunyi

Tiga hari setelah kejadian itu, grup "Squad Realita" sepi. Satu per satu anggotanya menghapus akun atau mengunci profil mereka rapat-rapat. Tidak ada lagi yang membalas chat Bayu. Bahkan teman yang paling dekat dengannya di grup itu hanya membalas singkat:

"Bro, gw out dulu ya. Bahaya kalo kena sangkut bareng."

Bayu duduk sendirian di kamar kosnya. HP-nya penuh notifikasi—bukan lagi notifikasi kemenangan di kolom komentar, tapi notifikasi penghinaan, cibiran, bahkan ancaman akan dilaporkan ke pihak platform.

Ia membuka kembali rekaman live Tama yang sempat ia tonton ulang berkali-kali. Kalimat sederhana itu terus terngiang:

"Kalau abang punya waktu nyinyirin anak SMA siang-siang gini, berarti abang nganggur ya?"

Tidak ada makian. Tidak ada hujatan balik. Hanya kejujuran kecil yang entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan yang pernah ia lontarkan ke orang lain selama ini.

Bayu menatap pantulan wajahnya di layar HP yang gelap. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia melihat dirinya bukan sebagai "Baskom Bocor yang ditakuti", tapi sebagai seorang laki-laki 41 tahun, tanpa pekerjaan, tanpa pencapaian, yang selama ini hanya merasa hebat karena bersembunyi di balik nama anonim dan keberanian palsu yang dipinjam dari jarak aman sebuah layar.

Ia menyadari bahwa selama ini, "kejujuran" yang selalu ia bangga-banggakan hanyalah topeng untuk kekosongan hidupnya sendiri. Ia menyebut orang lain NPD, padahal dialah yang paling membutuhkan validasi—dari like, dari war, dari rasa menang di kolom komentar orang yang bahkan tak pernah ia temui langsung.

Malam itu, dengan tangan gemetar, Bayu menghapus akun Baskom Bocor. Bukan karena takut dilaporkan. Bukan karena takut dikenali tetangga. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar malu—malu pada dirinya sendiri.

Ia menatap langit-langit kamar kosnya yang kusam, lalu bergumam pelan, hampir tak terdengar:

"Gue... selama ini cuma sampah, ya."

Tidak ada yang menjawab. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan, satu-satunya saksi dari kejatuhan seorang "jagoan" yang ternyata hanya sebesar layar HP-nya sendiri.


— TAMAT —

0/Post a Comment/Comments

Iklan Banner ⚡ Iklan
Iklan Banner ⚡ Iklan